Semua manusa akan mati cepat atau lambat, ia bak pintu yang setiap
orang akan melewatinya. Sebuah fase awal menikmati kehidupan akherat,
mati. Tidak sedikit orang yang takut mati, atau belum siap, alasannya
beragam tentu. Ada yang belum siap bekal akherat, ada yang masih
memiliki tanggung jawab dunia, anak masih kecil-kecil, dan kebutuhan
hidup masih banyak.
ajal adalah salah satu rahasia Allah, kehadirannya tak dapat ditolak meski hanya sekejap, tak ada jua yang dapat menyegerakan apalagi mengakhirkan. Karena ia murni hak Allah kepada hamba-Nya. Tinggal manusia saja yang mempersiapkan bekal.
Ada orang yang sukses dalam menyongsong kematian, dunia sudah ia raih, anak-anak sudah mandiri dan berkeluarga bahagia, hari tuanya ia isi dengan ibadah, ibadah dan ibadah. Tenang ia menghadap Allah, ini mungkin harapan semua orang.
Namun ada orang yang ‘belum selesai” misi nya di dunia, anaknya masih kecil-kecil, istrinya tidak berpenghasilan, menjadi single parent ujian baru dalam hidupnya yang tadinya tanggung jawab itu dipikul oleh sang suami, seharusnya ini yang menggugah saudara muslimnya untuk ambil bagian berpartisipasi dalam kebaikan.
Alasan terbaik di hadapan Allah adalah saat kita berada dalam barisan kebenaran, penyokong kebaikan, penyeru dakwah dan Islam. Apa juga posisi kita tidaklah menjadi soalan. Yang jelas setiap manusia memiliki kesempatan yang sama dalam berbuat kebaikan meski bidang garapan amalnya berbeda-beda.
Sekecil apapun titik kebaikan itu, hendaklah menjadi ma’zirah (alasan ) kepada Allah, bahwa kita sudah berusaha maksimal dalam taat kebaikan, meski dalam konteks yang menurut orang lain percuma saja atau sia-sia, seperti tercantum dalam firman Allah:
وَإِذْ قَالَتْ أُمَّةٌ مِنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا اللَّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا قَالُوا مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ
Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: "Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?" Mereka menjawab: "Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa. (QS Al A’raf [7]: 164)
Ini adalah kisah saat sepertiga golongan Bani Israil saat mereka bersikeras untuk mencari ikan pada hari Sabtu yang terlarang, ada yang taat dengan larangan tersebut, ada yang mengingatkan saudaranya yang melanggar, dan ada pelaku pelanggaran. Sepertiga yang mengingatkan ditanya oleh kaum yang taat namun diam saja, yang melihat apa yang dilakukan percuma, itu hanya sia sia belaka, namun cerdasnya dengan cerdas mereka menjawab,” Kami lakukan, agar kami punya alasan pelepas tanggung jawab di hadapan Allah” ( Wahbah Zuhaily, Tafsir Al Munir, 9/143)
Maka, carilah ‘alasan terbaik’ di hadapan Allah kelak, dengan ilmu yang kau sebarkan, dengan harta yang kau infakkan, dengan dakwah yang kau semai di tengah masyarakat, dengan apapun yang kau miliki, sebagai bekal menuju Allah, jangan hanya menjadi komentator dan penonton pertandingan saja.
Fauzan
08/01/2018
ajal adalah salah satu rahasia Allah, kehadirannya tak dapat ditolak meski hanya sekejap, tak ada jua yang dapat menyegerakan apalagi mengakhirkan. Karena ia murni hak Allah kepada hamba-Nya. Tinggal manusia saja yang mempersiapkan bekal.
Ada orang yang sukses dalam menyongsong kematian, dunia sudah ia raih, anak-anak sudah mandiri dan berkeluarga bahagia, hari tuanya ia isi dengan ibadah, ibadah dan ibadah. Tenang ia menghadap Allah, ini mungkin harapan semua orang.
Namun ada orang yang ‘belum selesai” misi nya di dunia, anaknya masih kecil-kecil, istrinya tidak berpenghasilan, menjadi single parent ujian baru dalam hidupnya yang tadinya tanggung jawab itu dipikul oleh sang suami, seharusnya ini yang menggugah saudara muslimnya untuk ambil bagian berpartisipasi dalam kebaikan.
Alasan terbaik di hadapan Allah adalah saat kita berada dalam barisan kebenaran, penyokong kebaikan, penyeru dakwah dan Islam. Apa juga posisi kita tidaklah menjadi soalan. Yang jelas setiap manusia memiliki kesempatan yang sama dalam berbuat kebaikan meski bidang garapan amalnya berbeda-beda.
Sekecil apapun titik kebaikan itu, hendaklah menjadi ma’zirah (alasan ) kepada Allah, bahwa kita sudah berusaha maksimal dalam taat kebaikan, meski dalam konteks yang menurut orang lain percuma saja atau sia-sia, seperti tercantum dalam firman Allah:
وَإِذْ قَالَتْ أُمَّةٌ مِنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا اللَّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا قَالُوا مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ
Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: "Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?" Mereka menjawab: "Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa. (QS Al A’raf [7]: 164)
Ini adalah kisah saat sepertiga golongan Bani Israil saat mereka bersikeras untuk mencari ikan pada hari Sabtu yang terlarang, ada yang taat dengan larangan tersebut, ada yang mengingatkan saudaranya yang melanggar, dan ada pelaku pelanggaran. Sepertiga yang mengingatkan ditanya oleh kaum yang taat namun diam saja, yang melihat apa yang dilakukan percuma, itu hanya sia sia belaka, namun cerdasnya dengan cerdas mereka menjawab,” Kami lakukan, agar kami punya alasan pelepas tanggung jawab di hadapan Allah” ( Wahbah Zuhaily, Tafsir Al Munir, 9/143)
Maka, carilah ‘alasan terbaik’ di hadapan Allah kelak, dengan ilmu yang kau sebarkan, dengan harta yang kau infakkan, dengan dakwah yang kau semai di tengah masyarakat, dengan apapun yang kau miliki, sebagai bekal menuju Allah, jangan hanya menjadi komentator dan penonton pertandingan saja.
Fauzan
08/01/2018
0 komentar:
Posting Komentar