Mengulik Seluk Beluk Suasana Ramadhan Eropa Yang Penuh Warna
Hadirnya bulan Ramadhan memberikan kabar bahagia bagi semua umat muslim di berbagai belahan dunia, termasuk di belahan utara bumi. Eropa yang dikenal dengan jumlah umat muslim yang mencapai 44 juta jiwa pada tahun 2010 dan akan mengalami perkembangan sebesar 8% di tahun 2030 mendatang. Dengan jumlah muslim yang cukup banyak ini menjadikan suasana Ramadhan Eropa tahun ini semakin semarak.
Bisa dikatakan bahwa hampir setiap tahunnya, suasana Ramadhan Eropa menjadi tantangan tersendiri bagi mereka yang menjalankannya. Namun demikian, hal ini tidak menyurutkan niat para muslim untuk terus berpuasa. Kondisi geografis yang jauh berbeda dengan beberapa negara muslim dunia menjadikan puasa di wilayah Eropa menjadi sesuatu yang bisa dibilang berkesan untuk mereka yang berasal dari wilayah timur.
Kapan Ramadhan di Eropa dimulai?
Masih berkaitan dengan suasana Ramadhan Eropa, di beberapa negara muslim akan memulai untuk berpuasa di saat pihak astronomi telah menyaksikan munculnya hilal untuk pertama kali. Di tahun 2019 kali ini, Ramadhan dimulai pada tanggal 6 Mei. Oleh sebab itu, banyak umat muslim di beberapa negara yang mayoritas penduduknya muslim memulai untuk menjalankan puasa pada tanggal tersebut.
Lantas, bagaimana dengan Ramadhan di Eropa? Kapan dimulainya Ramadhan di Eropa? Pertanyaan semacam ini dijawab oleh pihak The Union of Mosques of France (UMF) yang mengungkapkan bahwa Ramadhan di beberapa negara Eropa seperti halnya Belgia hingga Perancis dimulai pada hari Senin, 6 Mei 2019 silam dan berlangsung hingga kini. Tentu saja hal ini akan memberikan suasana Ramadhan Eropa yang sangat menarik bagi umat muslim dunia.
Umat Muslim Eropa Puasa Hampir 22 Jam Setiap Hari

Setiap negara memiliki kondisi astronomi yang sangat berbeda baik di wilayah utara maupaun selatan. Kondisi astronomi ini nampaknya berpengaruh pada suasana Ramadhan Eropa yang dalam hal ini memiliki perbedaan yang sangat signifikan dari beberapa negara muslim lainnya. disebutkan bahwa muslim di Eropa khususnya mereka yang tinggal di wilayah utara seperti halnya Norwegia harus menahan lapar, dahaga dan segala yang membatalkan puasa selama kurang lebih 22 jam lamanya.
Kondisi semacam ini diungkapkan oleh seorang pelajar Indonesia, Ekky Imanjaya yang menempuh pendidikan di benua biru tersebut. Terkait dengan suasana Ramadhan Eropa, dikatakan bahwa untuk Subuh dimulai pukul 02.18 dan maghrib tiba pada pukul 21.22. Tentu menjadi tantangan tersendiri namun bagi sebagian warga muslim yang berasal dari luar wilayah tersebut menanggapi hal tersebut sebagai seninya berpuasa.
Menyikapi adanya suasana Ramadhan Eropa Utara tersebut membuat beberapa Ulama mulai berfikir keras bagaimana mendapatkan kemudahan bagi umat muslim yang ada di wilayah tersebut. Dikatakan bahwa dengan durasi yang sangat panjang tersebut dianggap sangat berat bagi pria dan wanita yang sehat maupun anak-anak yang sedang belajar berpuasa. Bahkan, pihak Ulama tersebut berkeinginan untuk membawa permasalahan tersebut pada pertemuan Ulama untuk menetapkan ketentuan baru dalam durasi berpuasa di beberapa wilayah yang memiliki kondisi geografis yang sangat berbeda.
Seperti yang dikutip dari laman religionnews.com bahwa Ali Gomaa yang merupakan Mufti Besar dari Mesir ini menyebutkan bahwa beberapa warga muslim yang tinggal di belahan utara diberikan kemudahan dalam menjalankan ibadah puasa. Dalam fatwanya, disebutkan bahwa warga muslim tidak harus menjalankan puasa selama 21 jam namun hanya sebatas 14 sampai 16 jam. Hal ini menjadi kabar bahagia bagi mereka yang tinggal di wilayah Utara dengan matahari yang terus menerus bersinar sekalipun malam tiba.
Tradisi Unik Menyambut Ramadhan di Eropa
Masih berkaitan dengan suasana Ramadhan Eropa, di Inggris warga muslim menyambut bulan yang penuh berkah dengan menggantungkan banyak lampion yang terdapat pada restoran ataupun juga café bernuansa Timur Tengah. Sedangkan di Italia terkesan lebih sibuk dari pada biasanya, terutama di beberapa masjid atau yang lebih dikenal dengan Islamic Center. Keramaian ini terlihat dengan banyaknya ibu-ibu yang menyiapkan berbagai makanan manis dan juga bazaar.
Tidak hanya di dua negara itu saja, untuk suasana Ramadhan Eropa seperti di Irlandia didapati adanya umat muslim yang berkumpul pada Islamic Center untuk mendengarkan alunan Al-Quran dan mempelajarinya serta sholat tarawih. Sedangkan di Belanda, sejak 2005 silam, kehadiran bazaar yang menyediakan takjil berbuka puasa sudah dilegalkan oleh pemerintah setempat. Kondisi ini juga terjadi di beberapa negara Eropa lain seperti Swiss, Jerman hingga Ceko.
Dalam hal ini, suasana Ramadhan Eropa selalu diisi dengan aktivitas umat muslim yang berusaha mendekatkan diri kepada sang pencipta. Beberapa umat muslim ada yang melakukan kegiatan I’tikaf di masjid ataupun Islamic Center yang menjadi pusat pembelajaran agama Islam. Bahkan, beberapa restaurant buka hingga larut malam karena mereka mengetahui tradisi umat muslim yang juga membutuhkan menu untuk sahur.Tidak mengherankan jika café dan restaurant halal menjamur di wilayah Eropa saat Ramadhan tiba.
Menu Unik Ramadhan di Eropa
Dengan suasana Ramadhan Eropa yang sangat damai di tengah penduduknya yang mayoritas non-muslim ini menjadikan banyak warganya untuk berfikir kreatif termasuk dalam menyajikan makanan bagi warga muslim yang menjalankan puasa. Seperti di negara lain, banyak sekali menu khas yang hanya bermunculan di bulan yang penuh berkah ini.
Seperti halnya suasana Ramadhan Eropa tepatnya di Albania terdapat sebuah kuliner khas Ramadhan yang dikenal dengan sebutan byrek. Kuliner yang satu ini sangat cocok dinikmati saat berbuka karena cita rasanya yang begitu menggoda. Dibuat dari kue pie yang dikombinasikan dengan bayam sekaligus daging ini menjadi menu yang sangat special untuk dinikmati saat puasa. Sangat cocok disantap pada kondisi dingin ataupun panas.
Sedangkan di Bosnia, suasana Ramadhan Eropa juga diwarnai dengan munculnya menu special yang dalam hal ini adalah roti pita. Kuliner khas Ramadhan yang dibuat dari bahan daging, keju, kentang dan juga bayam ini memiliki bentuk bulat. Selain itu ada juga tapa yang juga merupakan menu Ramadhan yang dibuat dari keju, mentega dan krim.
Jika Anda ada di Jerman, maka suasana Ramadhan Eropa bisa Anda nikmati dengan mengkonsumsi menu khas Ramadhan yang berupa qata’ef. Jenis roti kering yang satu ini dibuat dengan merendamnya pada sirup gula. Bagian dalam dari roti ini berisi kacang-kacangan sekaligus juga keju manis. Untuk muslim di Rusia menawarkan menu khingalsh yang merupakan jenis roti dan terbuat dari tepung dengan isi berupa labu dan juga keju.
Suasana Ramadhan Eropa memang sangat berbeda dengan beberapa negara muslim dunia lainnya yang berada di belahan selatan ataupun wilayah muslim. Namun demikan, adanya perbedaan tersebut bukan menjadi pengahalang bagi mereka untuk terus menjalankan perintah Allah. Bahkan, banyak dari mereka yang sangat semangat untuk menjalankan puasa sekalipun harus menahan lapar hingga 22 jam lamanya. Adalah hal yang sangat menakjubkan, bukan?
Oleh milenial.info
Hadirnya bulan Ramadhan memberikan kabar bahagia bagi semua umat muslim di berbagai belahan dunia, termasuk di belahan utara bumi. Eropa yang dikenal dengan jumlah umat muslim yang mencapai 44 juta jiwa pada tahun 2010 dan akan mengalami perkembangan sebesar 8% di tahun 2030 mendatang. Dengan jumlah muslim yang cukup banyak ini menjadikan suasana Ramadhan Eropa tahun ini semakin semarak.
Bisa dikatakan bahwa hampir setiap tahunnya, suasana Ramadhan Eropa menjadi tantangan tersendiri bagi mereka yang menjalankannya. Namun demikian, hal ini tidak menyurutkan niat para muslim untuk terus berpuasa. Kondisi geografis yang jauh berbeda dengan beberapa negara muslim dunia menjadikan puasa di wilayah Eropa menjadi sesuatu yang bisa dibilang berkesan untuk mereka yang berasal dari wilayah timur.
Kapan Ramadhan di Eropa dimulai?
Masih berkaitan dengan suasana Ramadhan Eropa, di beberapa negara muslim akan memulai untuk berpuasa di saat pihak astronomi telah menyaksikan munculnya hilal untuk pertama kali. Di tahun 2019 kali ini, Ramadhan dimulai pada tanggal 6 Mei. Oleh sebab itu, banyak umat muslim di beberapa negara yang mayoritas penduduknya muslim memulai untuk menjalankan puasa pada tanggal tersebut.
Lantas, bagaimana dengan Ramadhan di Eropa? Kapan dimulainya Ramadhan di Eropa? Pertanyaan semacam ini dijawab oleh pihak The Union of Mosques of France (UMF) yang mengungkapkan bahwa Ramadhan di beberapa negara Eropa seperti halnya Belgia hingga Perancis dimulai pada hari Senin, 6 Mei 2019 silam dan berlangsung hingga kini. Tentu saja hal ini akan memberikan suasana Ramadhan Eropa yang sangat menarik bagi umat muslim dunia.
Umat Muslim Eropa Puasa Hampir 22 Jam Setiap Hari

Setiap negara memiliki kondisi astronomi yang sangat berbeda baik di wilayah utara maupaun selatan. Kondisi astronomi ini nampaknya berpengaruh pada suasana Ramadhan Eropa yang dalam hal ini memiliki perbedaan yang sangat signifikan dari beberapa negara muslim lainnya. disebutkan bahwa muslim di Eropa khususnya mereka yang tinggal di wilayah utara seperti halnya Norwegia harus menahan lapar, dahaga dan segala yang membatalkan puasa selama kurang lebih 22 jam lamanya.
Kondisi semacam ini diungkapkan oleh seorang pelajar Indonesia, Ekky Imanjaya yang menempuh pendidikan di benua biru tersebut. Terkait dengan suasana Ramadhan Eropa, dikatakan bahwa untuk Subuh dimulai pukul 02.18 dan maghrib tiba pada pukul 21.22. Tentu menjadi tantangan tersendiri namun bagi sebagian warga muslim yang berasal dari luar wilayah tersebut menanggapi hal tersebut sebagai seninya berpuasa.
Menyikapi adanya suasana Ramadhan Eropa Utara tersebut membuat beberapa Ulama mulai berfikir keras bagaimana mendapatkan kemudahan bagi umat muslim yang ada di wilayah tersebut. Dikatakan bahwa dengan durasi yang sangat panjang tersebut dianggap sangat berat bagi pria dan wanita yang sehat maupun anak-anak yang sedang belajar berpuasa. Bahkan, pihak Ulama tersebut berkeinginan untuk membawa permasalahan tersebut pada pertemuan Ulama untuk menetapkan ketentuan baru dalam durasi berpuasa di beberapa wilayah yang memiliki kondisi geografis yang sangat berbeda.
Seperti yang dikutip dari laman religionnews.com bahwa Ali Gomaa yang merupakan Mufti Besar dari Mesir ini menyebutkan bahwa beberapa warga muslim yang tinggal di belahan utara diberikan kemudahan dalam menjalankan ibadah puasa. Dalam fatwanya, disebutkan bahwa warga muslim tidak harus menjalankan puasa selama 21 jam namun hanya sebatas 14 sampai 16 jam. Hal ini menjadi kabar bahagia bagi mereka yang tinggal di wilayah Utara dengan matahari yang terus menerus bersinar sekalipun malam tiba.
Tradisi Unik Menyambut Ramadhan di Eropa
Masih berkaitan dengan suasana Ramadhan Eropa, di Inggris warga muslim menyambut bulan yang penuh berkah dengan menggantungkan banyak lampion yang terdapat pada restoran ataupun juga café bernuansa Timur Tengah. Sedangkan di Italia terkesan lebih sibuk dari pada biasanya, terutama di beberapa masjid atau yang lebih dikenal dengan Islamic Center. Keramaian ini terlihat dengan banyaknya ibu-ibu yang menyiapkan berbagai makanan manis dan juga bazaar.
Tidak hanya di dua negara itu saja, untuk suasana Ramadhan Eropa seperti di Irlandia didapati adanya umat muslim yang berkumpul pada Islamic Center untuk mendengarkan alunan Al-Quran dan mempelajarinya serta sholat tarawih. Sedangkan di Belanda, sejak 2005 silam, kehadiran bazaar yang menyediakan takjil berbuka puasa sudah dilegalkan oleh pemerintah setempat. Kondisi ini juga terjadi di beberapa negara Eropa lain seperti Swiss, Jerman hingga Ceko.
Dalam hal ini, suasana Ramadhan Eropa selalu diisi dengan aktivitas umat muslim yang berusaha mendekatkan diri kepada sang pencipta. Beberapa umat muslim ada yang melakukan kegiatan I’tikaf di masjid ataupun Islamic Center yang menjadi pusat pembelajaran agama Islam. Bahkan, beberapa restaurant buka hingga larut malam karena mereka mengetahui tradisi umat muslim yang juga membutuhkan menu untuk sahur.Tidak mengherankan jika café dan restaurant halal menjamur di wilayah Eropa saat Ramadhan tiba.
Menu Unik Ramadhan di Eropa
Dengan suasana Ramadhan Eropa yang sangat damai di tengah penduduknya yang mayoritas non-muslim ini menjadikan banyak warganya untuk berfikir kreatif termasuk dalam menyajikan makanan bagi warga muslim yang menjalankan puasa. Seperti di negara lain, banyak sekali menu khas yang hanya bermunculan di bulan yang penuh berkah ini.
Seperti halnya suasana Ramadhan Eropa tepatnya di Albania terdapat sebuah kuliner khas Ramadhan yang dikenal dengan sebutan byrek. Kuliner yang satu ini sangat cocok dinikmati saat berbuka karena cita rasanya yang begitu menggoda. Dibuat dari kue pie yang dikombinasikan dengan bayam sekaligus daging ini menjadi menu yang sangat special untuk dinikmati saat puasa. Sangat cocok disantap pada kondisi dingin ataupun panas.
Sedangkan di Bosnia, suasana Ramadhan Eropa juga diwarnai dengan munculnya menu special yang dalam hal ini adalah roti pita. Kuliner khas Ramadhan yang dibuat dari bahan daging, keju, kentang dan juga bayam ini memiliki bentuk bulat. Selain itu ada juga tapa yang juga merupakan menu Ramadhan yang dibuat dari keju, mentega dan krim.
Jika Anda ada di Jerman, maka suasana Ramadhan Eropa bisa Anda nikmati dengan mengkonsumsi menu khas Ramadhan yang berupa qata’ef. Jenis roti kering yang satu ini dibuat dengan merendamnya pada sirup gula. Bagian dalam dari roti ini berisi kacang-kacangan sekaligus juga keju manis. Untuk muslim di Rusia menawarkan menu khingalsh yang merupakan jenis roti dan terbuat dari tepung dengan isi berupa labu dan juga keju.
Suasana Ramadhan Eropa memang sangat berbeda dengan beberapa negara muslim dunia lainnya yang berada di belahan selatan ataupun wilayah muslim. Namun demikan, adanya perbedaan tersebut bukan menjadi pengahalang bagi mereka untuk terus menjalankan perintah Allah. Bahkan, banyak dari mereka yang sangat semangat untuk menjalankan puasa sekalipun harus menahan lapar hingga 22 jam lamanya. Adalah hal yang sangat menakjubkan, bukan?
Oleh milenial.info

0 komentar:
Posting Komentar