WHAT'S NEW?
Loading...

TRAGEDI KASHMIR, KISAH HILANGNYA SURGA DUNIA




Ada pepatah Arab berbunyi, “Yusjanul ‘Ushfuuru didzanbil Jamaali. Seekor burung dipenjara dalam sangkar, tersebab dosa keindahan.” Maksud dari ungkapan ini adalah, “Terkadang, keindahan bisa menjadi sebab datangnya petaka. Perempuan, karena kecantikannya, ia diperkosa oleh lelaki bejat. Sebagaimana Nabi Yusuf yang harus mendekam di dalam sel tahanan. Ketampanannya seakan menjadi “dosa” yang karenanya ia harus dipenjara.” Sunguh, pengibaratan ini sangat relevan untuk menggambarkan nasib buruk yang menimpa Kashmir: lembah bersalju yang pesonanya sangat menyihir. Orang-orang menyebutnya sebagai; “Surga dunia”, “Paradise on earth”, “Jannatu Al-Ardh.”

Secara geografis, Kashmir merupakan wilayah yang sangat strategis: terletak di antara tiga Asia; Asia Tengah (India-Pakistan), Asia Selatan (Afghanistan), dan Asia Timur (China). Kashmir dikenal sebagai objek wisata yang menyajikan pemandangan eksotis di sebelah selatan Gunung Himalaya. Resort Ski menjamur di sana. Tanahnya subur. Hijau. Asri. Udaranya pun sejuk. Dialiri air lembah. Dilewati sungai-sungai besar. Dikelilingi gunung-gunung. Kebun-kebun dan taman-taman bunga pun ikut mempercantik wajah Kashmir. Keelokan itulah yang kemudian membuatnya diperebutkan. Selama 72 tahun, konflik berdarah di bumi Kashmir terus berlangsung. Dan selalunya yang menjadi korban adalah umat Islam.

***

Pada tahun 94 H (712 M), dakwah Islam sudah mulai menyentuh Kashmir. Yaitu ketika seorang Jenderal Daulah Umawiyah, Muhammad bin Al-Qasim Ats-Tsaqafi, memasuki wilayah Sind dan melanjutkan ekspedisinya sampai Kashmir. Ia dikenal sebagai Fatih Bilad As-Sind: pembebas negeri Sind. Penyebarluasan Islam di wilayah Sind dan India semakin gencar di masa Daulah Abbasiyah, yakni ketika Al-Mu’tashim menjabat sebagai Khalifah pada tahun 218-225 H (833-839 M). Pemerintahan Islam di Kashmir berlangsung selama berabad-abad lamanya. Pada masa Sulthan Agung Jalaluddin Akbar, di tahun 1587, Kashmir pun masuk ke dalam wilayah Kekaisaran Islam Mughal.

Keindahan Kashmir terawat dengan baik selama Islam berkuasa. Namun wajah cantiknya mulai tercabik-cabik ketika Sikh Ranjit Singh; pemeluk Hindu dari Punjab, menaklukkan Kashmir pada tahun 1819. Ia hanya bisa menumpahkan darah dan tidak cakap mengelola negara hingga akhirnya Kashmir jatuh ke tangan Inggris. Kemudian Inggris menjual Kashmir kepada Maharaja Galuh Singh: tuan tanah keturunan Dogra dari Jammu. Galuh hanya mengeluarkan 7.5 juta Rupee untuk mendapatkan Kashmir.

Dari sini bisa dilihat, walaupun pada akhirnya Inggris meninggalkan wilayah India dan sekitarnya, tetapi sebenarnya bukan semata-mata karena ingin memberi kemerdekaan. Inggris pergi sebab misi utamanya telah selesai: menyebar fitnah dan memecah belah. Dalam perkembangannya, masyarakat jajahan Inggris yang beragama Hindu, membuat negara Republik India. Sedangkan mereka yang memeluk Islam, mendirikan negara Pakistan. Saat kedua negara itu berdiri, tersisa satu wilayah potensial bernama Kashmir yang sebelumnya telah dijual dengan harga murah.

Inilah cara Inggris melecehkan dan menyudutkan umat Islam. Bagaimana pun juga, apabila suatu wilayah bisa dibeli dengan uang, hal tersebut mengindikasikan bahwa kemerdekaan rakyatnya setara dengan secuil harta. Inggris seakan sudah memprediksi, kelak dua negara yang baru lahir itu akan akan berperang memperebutkan wilayah Kashmir. Ya, secara dzhahir, ketika Inggris pergi, Kashmir memang diberi hak untuk memilih ikut India atau Pakistan. Namun pada hakikatnya, ia dijebak dalam satu kondisi yang sangat dilematis: pemimpinnya yang beragama Hindu pasti akan memihak India, sementatra mayortias masyrakatnya yang beragama Islam, sudah barang tentu akan condong ke Pakistan.

***

Anggaplah secara politis, umat Islam Kashmir kalah dan harus menerima pemimpin mereka yang bergelar raja. Mau tidak mau, Kashmir harus mengakui pemerintah yang sah secara de jure dan de facto. Hanya saja masalahnya, di mana pun berada, dan dalam kondisi selemah apapun, kaum muslimin tidak akan tinggal diam jika didzhalimi. Apalagi ketika ajarannya dihina.

Penguasa Kashmir melakukan tindakan sewenang-wenang terhadap penduduk muslim yang terjadi pada tahun 1931, ketika seorang komandan Hindustan melecehkan Al-Qur’an. Akibatnya, umat Islam bangkit melawan dan api peperangan berkobar di sana. Kekerasan yang mencenganagkan pun terjadi pada 13 Juli 1931. Kaum muslimin Kashmir terdesak dan konon, kondisinya hampir mirip seperti terdesaknya para sahabat di perang Mu’tah.

Inilah yang jarang diungkap oleh media masintream. Masyarakat muslim Kashmir hanya diberitakan melakukan pemberontakan terhadap pemerintah yang sah, tapi tidak dirunut asbabul wurudnya kenapa hal itu bisa terjadi. Padahal, secara sosio-kulutural, penduduk Kashmir adalah masyarakat multi rasial yang meski berbeda agama, umat Islam dan pemeluk Hindu di sana bisa hidup berdampingan: rukun dan damai. Ada semacam chemistry antara ajaran sufi dan Hindu yang menjembatani perdamaian mereka. Dinamika yang cukup unik. Ketika dua agama besar saling menghormati dan tidak terlampau fanatik. Tapi pemerintahnya justru berulah dan memicu konflik.

Salah sau kebijakan pemerintah Kashmir yang tidak bijkasana adalah penerapan undang-undang darurat dan ketika itu surat kabar pro Pakistan diblokir. Unjuk rasa dipimpin oleh Abdul Qayyum menentang pemerintah Kashmir, Hari Singh. Tapi aksi protes ini justru dibalas dengan pembantaian yang sangat keji. Pemerintah kerajaan melakukan pembumihangusan terhadap sejumlah desa-desa muslim. Situasi ini menyulut kemarahan muslim Kasmir lainnya yang kemudian melakukan gerakan solidaritas. Ketika itulah Pakistan pun memberikan bantuan militer demi membantu saudara-saudara seaqidah yang dibantai Dukungan Pakistan ini sangat efektif. Wilayah Srinagar berhasil dikuasai. Karena terdesak, Singh meminta bantuan kepada India.

Seakan merasa terpanggil untuk memecahkan konflik antara India dan Pakistan, PBB menengahi dengan membagi Kashmir menjadi dua. India mendapat jatah 100.569 km persegi dari wilayah Kashmir dengan populasi 10 juta jiwa. Dan Pakistan menguasi 78.932 km persegi wilayah Kashmir dengan populasi penduduk sekira 300 ribu jiwa. Ibu kota wilayah Jammu-Kashmir yang dikuasai India adalah Srinagar. Dan pusat adminisitratif Azad-Kashmir yang dikuasai Pakistan adalah Muzaffarad.

Alih-alih berdamai, meski sudah dibagi-bagi sedemikian, konflik India-Pakistan masih berlanjut. Sir Frederic Bennet, dalam tulisannya yang berjudul “Excerpts from Kashmir Today” menyebutkan beberapa faktor kegagalan resolusi PBB tersebut: Pertama, pembagian wilayah itu sarat dengan kepentingan nasional negara-negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB, baik dari sisi ekonomi maupun dari sisi strategis. Kedua, Inggris sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap Kashmir, mempunyai kepentingan lebih besar terhadap India dibandingkan Pakistan. Singkatnya, resolusi itu omong kosong belaka.

***

Mengharapkan PBB sebagai juru damai dan menghentikan penindasan yang menimpa umat Islam, seperti menengakkan benang basah. Pelik memang. Di satu sisi, India menuduh muslim Kashmir adalah separatis yang membuat onar. Di sisi lain, bagi umat Islam Kashmir, India adalah penjajah yang hendak merampas tanah kelahiran mereka. Sejarahlah yang akan membuktikan siapa yang bersalah. Faktanya, tentara India telah melampuai batas: melampiaskan kebrutalan kepada muslimin Kashmir. Toko-toko dijarah lalu dibakar. Rumah-rumah dihancurkan. Kebun-kebun dihanguskan. Hewan-hewan ternak dipanggang dalam keaadaan masih bernyawa. Siapa yang berusaha melawan, akan berakhir mengenaskan: ditembak tepat di jantung, atau ditikam dileher dengan hujaman mematikan.

Lebih dari itu, kedzhaliman paling keji yang dilakukan mereka adalah mengebiri anak-anak lelaki dan mensterilisasi anak-anak perempuan dalam rangka menghambat populasi umat Islam. Berikut daftar tragedi kemanusiaan dan korban kebiadaban penjajahan India: 35.000 muslim-muslimah meninggal, in sya’a Allah syahid. 22.000 di antara mereka korban pembakaran hidup-hidup. 30.000 orang luka parah dan sebagian besar cacat sepanjang hayat. 69.000 disiksa dalam penjara. 25.000 hidup terlunta-lunta setelah tempat tinggal mereka menjadi objek penghancuran dan pengrusakan vandalisme India. 3575 muslimah diperkosa secara bergilir. 110 di antara mereka meninggal akibat kekerasan seksual. Dan itu semua dilakukan hanya dalam waktu dua tahun, 1990-1991.

Masih banyak lagi yang belum terekspos. Nantikan kelanjutannya di “Tragedi Kashmir, Kisah Hilangnya Surga Dunia, Part kedua.” Bersambung. In sya’a Allah. . . Ichang Stranger
Depok, 8 Dzulhijjah 1440 / 9 Agustus 2019

0 komentar:

Posting Komentar