WHAT'S NEW?
Loading...

EMPAT DORONGAN SPIRITUAL MENURUT IMAM SYATIBI


EMPAT DORONGAN SPIRITUAL MENURUT IMAM SYATIBI


Seorang beraktifits mustahil tanpa dorongan kuat utk melakukannya, seperti orang bekerja motivasi nya adalah nafkah utk keluarga tercinta. Atau pebisnis yg menggeliatkan usahanya motivasinya profit naik, deposito bertambah dan finasial freedom seperti kata para coach.

Nah, menurut Imam Syatibi seorang ulama Ushul Fikih dalam kitabnya Al Muwafaqat, ada 4 dorongan orang beramal:


1. Iman

Ini motifasi alamiah sebagai seorang muslim. Maka imanlah yg memotifasi Hanzhalah sang pengantin baru, utk turut berjihad dimalam pengantinnya sampai beliau syahid dan mendapat gelar Ghasilul Malaikat (Pengantin Yang dimandikan Malaikat). Juga bagaimana Abdurrahman bin Auf yg bersedekah 500 ekor unta beserta dagangannya, utk perjuangan Rasulullah. Isi Dunia terasa ringan dengan kekuatan iman.

2. Takut (الخوف )

Rasa takut pada Allah, menyebabkan orang akan berlari menuju panggilan Allah saat Azan shalat wajib berkumandang. Ia akan tinggalkan rapat, bisnis, atau teman duduknya, sejenak 'bertemu' Allah dalam sujud khusyuknya. Orang yg takut Allah, ia akan terus berusaha beramal, meski amalnya berat. Bahkan lantaran rasa takutnya itu akan timbul sifat sabar terhadap ujian yg ada dihadapannya.

3. Harapan (الرجاء)

Orang yg memiliki harapan, ia akan terus bekerja dan beramal. Kesulitan dan hambatan ibarat tabungan utk sukses masa depan. Orang yg punya harapan adalah orang yg punya cita cita. Petani yg menanam benih, tentu berharap kelak panen melimpah, untuk si buah hati. Pedagang yg sejak pagi buta sudah hilir mudik menjajakan dagangannya tentu berharap, sore hari dagangannya habis laku keras. Org beriman yg berharap balasan Allah, mereka akan tetap beramal, meski banyak godaan merintangi.

4. Cinta (الحب )

Orang yg mencintai sesuatu, mereka akan bekerja, beramal untuk sesuatu yg dicintainya. Orang yg mencintai Allah, akan mengerahkan segala upaya untuk mencapai cinta Allah sang kekasihnya. Karena dengan cinta, yang sulit terasa mudah, yang jauh terasa dekat dan yang pahit terasa manis. Asiikk.

Sumber: Imam Syatibi, Kitab Al-Muwafaqat, 2/41)

25/9/2019
Abu Nawa, Lc

0 komentar:

Posting Komentar