Sebenarnya terasa berat harus keluar rumah lagi dan ikut memadamkan api.
Selain tubuh serasa remuk redam dan meronta minta diistirahatkan, krn sejak kemarin malam berusaha menjinakkan api sampai jam 03.00 dini hari dan siangnya harus berjibaku melawan si jago merah sampai hampir magrib, memadamkan api di hutan dan area perkebunan warga di malam hari punya resiko yg cukup besar.
Keadaan yg gelap, medan yg sulit, mendaki dan tak kami kuasai, adanya jurang di beberapa lokasi dan angin yg kencang, sangat berpotensi bahaya dan mengancam keselamatan jiwa.
Dua titik api yg besar, jumlah personel Lazis Wahdah yg terbatas dan sumber air yg jauh, semakin menambah berat beban kami saat itu.
Sempat muncul rasa pesimis bisa memadamkan api, krn beberapa malam sebelumnya kami tak berdaya saat terjadi kebakaran tak jauh dari lokasi tsb.
Namun saat sedang berjalan menuju lokasi kebakaran, tiba-tiba muncul rombongan anak muda. Berpeci putih dan berbaju lapangan. Mereka terlihat begitu cekatan.
Setelah mendekat, ternyata mereka kawan2 dari FPI dan SKUT asal Poso. Jumlah mereka cukup banyak. Sekitar 60an orang.
Kedatangan mereka malam itu terasa begitu membantu. Rasa letih kami seperti hilang dan berganti dengan rasa bahagia dan semangat yg luar biasa. Memikul air sekitar 15 liter sambil mendaki bukit terjal pun menjadi terasa ringan.
Api yg tadinya kami perkirakan baru bisa padam saat tengah malam, alhamdulilah bisa dijinakkan hanya dlm waktu sejam.
Oh iya, desa Malewa, lokasi kebakaran itu, mayoritas penduduknya beragama Kristen.
Sementara relawan yg terlibat dlm upaya pemadaman beberapa hari ini rata2 dari ormas/lembaga Islam; Baznas Tojo Una, Wahdah Tojo Una-Una, Dewan Da'wah Touna, FPI Poso dan SKUT (Siap Kerja untuk Ummat) Poso.
Kebakaran kali ini bukan hanya mempererat ukhuwah Islamiyyah antara ormas dan lembaga Islam, tapi juga menjadi bukti bahwa sejatinya Islam adalah agama yg ramah dan toleran.
Selepas shalat isya, saat bersiap untuk istrahat, tiba-tiba ada warga yg minta tolong memadamkan api di area perkebunan, atas desa Malewa.
sumber : Mohamad Hamdi Mahdin

0 komentar:
Posting Komentar