Kebutuhan pendidikan untuk anak menjadi kebutuhan primer akhir akhir ini. Karena orang tua semakin mengerti pentingnya akhlak bagi perkembangan jiwa anak. Maka, sebuah kontradiktif apabila tingginya intelektual ternyata tidak berbanding lurus dengan baiknya moral seseorang. Dan itu terjadi nyata.
Moral Hazzard, bila ada sekelas Doktor atau profesor sekalipun bisa berpendapat 'nyleneh', atau berprilaku melanggar hukum. Atau seorang sarjana bertindak diluar batas norma susila, negara bahkan melanggar agama. Dan itu nyata.
Seperti ada kesalahan dalam pola didik dan sistem pengajaran yang berulang-ulang. Gelar akademik hanya menjadi tujuan pertama. Pinter menjadi kebanggaan. Tapi moral dianak tirikan. Dan anehnya berkembang puluhan tahun tanpa ada perubahan signifikan.
Tidak sedikit orang tua yang menyekolahkan anaknya disebuah lembaga pendidikan atau pesantren dengan tujuan agar anak anak baik dan Sholeh. Dan itu bagus. Namun sayangnya tidak dibarengi dengan usaha-usaha selaras dengan program dilembaga pendidikan tersebut.
Sebut saja, jika dipesantren dilarang merokok tapi orang tua dirumah masih merokok. Disekolah wajib berbusana muslim muslimah, tapi pengawasan orang tua lemah terhadap model pakaian anak anaknya. Disekolah dilarang musik Barat, tapi dirumah bebas. Disekolah dilarang akses hp. Tapi dirumah WiFi non stop. Disekolah wajib shalat berjamaah, disekolah kadang anaknya terlantar shalat, karena ortunya pulangnya larut sebab bekerja, sama sama Subuhan dirumah. Masih mending masih Shalat. Disekolah wajib ada pelajaran Al Qur'an, tapi sudahkan dirumah ada agenda baca Al Quran bersama?
Belum lagi ketika siswa lulus pesantren, mereka akan masuk kampus. Yang tentu lebih bebas menentukan sikap. Sejauh mana perhatian orang tua kepada anak anaknya, pengawasan pergaulan dan lainnya? Semua balik lagi kepada orang tuanya.
Yang jelas, sekolah dan pesantren bukan tempat loundry, sehebat apapun pimpinan ponpesnya. Seshalih apapun guru pengajarnya. Semahal apapun uang pangkal dan SPPnya. Tidaklah menjadi jaminan anak bisa shalih 100%. Orang tua, sekali lagi orang tua yang bertanggung jawab penuh.
Karena lembaga pendidikan bukanlah perusahaan pabrik, dan anak bukanlah boneka. Karena mengajar dan mendidik bukan hanya tugas guru saja.
Depok, 4 September 2019
Abu Nawa, Lc

0 komentar:
Posting Komentar