WHAT'S NEW?
Loading...

SEDIKIT BICARA TENTANG JIHAD BUDAYA LEWAT KARYA FILM...

بسم الله الرحمن الرحيم



(A). RASUL SAW pernah berkata, siapa yang habis makan bawang tak boleh ikut shalat jamaah. Begitu juga ada riwayat, siapa baru makan daging onta harus wudhu lagi. Lalu ada riwayat, tidak boleh mengumumkan barang kehilangan di masjid. Ada riwayat, kain di bawah mata kaki tempatnya di neraka. Wanita pakai parfum wangi keluar rumah, ia adalah "pelacur", juga riwayat pasar sebagai markas setan di dalamnya berkibar panji panji setan, dan sebagainya.

Jika kesimpulan hukum diambil secara "asal comot" dari riwayat-riwayat seperti di atas, akan muncul aplikasi-aplikasi yang aneh. Misalnya, jangan menanam dan berjualan bawang; jangan memelihara onta; jangan buat pengumuman di masjid; orang yang pakai kain di bawah mata kaki harus dibasmi; bermudah-mudah menuduh wanita baik-baik sebagai pelacur; larangan membuat pasar atau berjualan di pasar. Dan aneka contoh yang serupa itu.

TASHOUWUR (gambaran pandangan) yang tidak lengkap, seringkali menghasilkan kesimpulan yang melenceng. Begitulah adanya.

(B). Seperti kita maklumi, Ummat Islam masa kini menghadapi tantangan (ujian) dari segala penjuru. Kita diuji oleh kaum kafirin, munafikin, zhalimin dari segi: ideologi, politik, media, pendidikan, seni budaya, ekonomi, bisnis, lingkungan, simbol, dan lain-lain.

Kemunkaran itu tersebar di berbagai lini, punya domain dan pasar masing masing, sehingga tenaga Ummat pun terbagi-bagi untuk menghadapinya. Istilah kata "kita berbagi tugas dan lapak".

Yang biasa membina KAJIAN di masjid, tidak dibebani tugas menghapus tatto anak-anak jalanan. Yang biasa hadapi kaum RENTENIR di kampung kampung, tidak dibebani tugas mengumpul donasi untuk Palestin, Suriah, Rohingya. Begitu pun yang biasa adakan RUQYAH massal, tidak dibebani tugas membuka pondok-pondok Tahfizh.

Setiap diri berjuang sesuai kemampuan dan kapasitasnya. "Kullu ya'malu 'ala syakilatih" (setiap orang beramal sesuai keadaannya).

(C). Berjuang menghadapi tantangan masing-masing ini dilakukan kaum Muslimin. Contoh, saat ada bencana asap di Sumatera dan Kalimantan. Itu adalah cobaan dari segi lingkungan dan kesehatan. Di sini ada partai Islam yang menerjunkan relawan untuk membantu pemadaman api. Juga ada tokoh politik Muslim menawarkan bantuan, tapi sayangnya ditolak.

Dari segi ekonomi, dengan adanya fenomena ribawi, monopoli pasar, liberalisme pasar menimpa Ummat. Lalu ada sebagian Muslim membuat 212Mart, juga mart-mart lain dalam rangka membendung kerugian lebih besar. Juga ada yang menawarkan jasa keuangan tanpa riba, dan lainnya.

Dalam masalah pendidikan, ketika banyak sekolah sekuler, menjamur kenakalan pelajar, merosotnya moralitas, konten buku-buku pelajaran bermasalah. Ummat Islam berusaha membuat sekolah-sekolah alternatif yang lebih baik, dengan memadukan pendidikan agama, Al-Quran, dan Sains.

Hingga dalam skala SIMBOL penampilan, ada sebagian Muslim aktif membuat bisnis pakaian Syar'i, T-Shirt dakwah, topi tauhid, dan sebagainya.

SEMUA itu adalah fakta di lapangan bahwa kaum Muslimin BERUSAHA MENEBAR MASLAHAT DAN MEMBENDUNG KEMUNKARAN SESUAI BIDANG MASING-MASING.

Mereka mampunya di mana, di situ pula mereka bergerak melakukan aksi. Tidak bisa yang dinamakan DAKWAH itu bentuknya hanya kajian di masjid saja, karena tantangan terbanyak kita justru ada DI LUAR MASJID.

Setelah orang ngaji, mendengar ceramah, mendengar khutbah di masjid, pastinya mereka akan KELUAR dari sana, lalu melebur dalam kehidupan sosial. Di situ diperlukan "fight" di segala lini kehidupan.

(D). Bagaimana dengan dunia film (cinema), apa Ummat Islam menghadapi tantangan serius di situ? Tidak cukupkah Ummat sudah bikin situs internet, page dakwah, grup WA, TV dakwah, channel Youtube dakwah, dan semisalnya?

Sejatinya tantangan di dunia CINEMA sudah lama dihadapi Ummat. Mungkin ia lebih dulu dari tantangan dunia TV. Sejak era 90an sudah muncul film AR-RISALAH (The Message), tentang sirah perjuangan Nabi Saw. Lalu diikuti munculnya film LION OF THE DESSERT tentang perjuangan Sayyid Omar Mokhtar di Libya. Ummat Islam di Indonesia juga membuat film seperti FATAHILLAH, SANG MURABBI, SANG PENCERAH, SANG KYAI, dan lainnya.

Film film itu muncul untuk MEMBERI PILIHAN film yang positif, mengandung nilai edukasi, menjaga moralitas, serta menitipkan pesan-pesan Syariat di dalamnya.

Seandainya semua itu tidak penting, mungkin Ummat tidak akan membuatnya; atau mereka akan mencukupkan diri sebagai fans Hollywood dan Boliwood. Faktanya, alhamdulillah Ummat menyambut baik film-film tersebut.

Dari segi JUMLAH film film ini hanya SEUJUNG KUKU dibandingkan lautan film sekuler, hedonis, pornografis, amoral, mengandung promo kekafiran dan kemusyrikan, eksploitasi manusia, dll.

Bayangkan saja, dalam satu tahun belum tentu lahir sebuah film EDUKATIF ISLAMI. Sedangkan film-film NON ISLAMI terus bermunculan setiap minggu. Nyaris setiap minggu gedung gedung bioskop tidak pernah sepi dari film baru.

(E). Bentuk lain selain film layar lebar adalah film serial yang tayang di TV. Di sana Ummat Islam membuat serial ASHABUL KAHFI, OMAR, dan lainnya. Bahkan membuat serial KISAH PARA NABI dalam bentuk kartun. Juga aneka produk EDUKASI MUSLIM untuk anak-anak. Termasuk yang pernah booming serial HARUN YAHYA di bidang pemikiran dan sains Islami.

Ummat Islam juga membuat stasiun TV Muslim dengan beraneka fokus, segmen, dan cakupan geografis. Di Timur Tengah, Turki, Asia Tenggara, Eropa, dan lainnya berdiri TV edukasi Muslim dengan beragam channel. Semua ini masih tercakup dalam satu tema, JIHAD MEDIA dan BUDAYA.

(F). Seberapa mendesak membuat film film tersebut? Apakah tidak cukup kita membuat kajian di masjid, TV dakwah, radio dakwah, juga channel youtube dakwah?

Anda bisa lihat munculnya film THE SANTRI, film bertema LGBT beberapa waktu lalu, film DILAN yang mempromokan pacaran dan kebut-kebutan, film bertema seks bebas, serta film HOROR aneka rupa yang jauh lebih banyak jumlahnya. Apa Anda melihat bahaya dari film film tersebut?

Di antara pesan-pesan film yang berbahaya bagi kaum Muslimin adalah:
- Mempromokan ateisme dan melecehkan agama.
- Mempromokan pacaran dan percintaan anak remaja.
- Mempromokan seks bebas, bahkan dunia gelap prostitusi.
- Mempromokan kemusyrikan dari konten hantu-hantuan.
- Mempromokan pornografi dan eksploitasi wanita.
- Mempromokan kekerasan dan sadisme.
- Dan lain-lain.

Semua itu ada, nyata, dan menjadi bagian dari kehidupan kaum Muslimin di negeri ini.

Hebatnya lagi, KONSUMSI FILM ini sudah jadi gaya hidup. Mereka punya komunitas, forum diskusi, agenda agenda pertemuan. Dan tidak sedikit anak-anak muda Muslim menjadi bagian dari komunitas tersebut.

(G). Tapi apakah sedemikian mendesak? Apakah tidak cukup dengan sarana sarana dakwah dan kajian yang ada selama ini?

Hei Saudara, Anda tahu film DILAN? Siapa yang ikut mempromokan film itu? Anda masih ingat orang yang berkata begini: "I invite U to invest in my country...!" Eh salah, maksudnya yang ini: "Diambil dari sudut pandang yang pas, akhirnya... Boom!"

Bahkan ada kepala daerah "kurang kerjaan" sampai membuat Taman Dilan di Bandung. Belum lagi Dilan dipromokan secara luas sebagai gaya muda anak remaja Indonesia.

Apa isi dari film Dilan itu positif dan siapa yang mendukung penyebarannya? Ingat, yang membuat endorse Dilan itu seorang tokoh "Ulil Amri" tingkat tertinggi di negeri ini.

(H). Bukankah sudah banyak situs dakwah, page dakwah, TV dan radio dakwah, channel Youtube dakwah?

Ya kesemua itu bermanfaat insya Allah. Ia kita apresiasi dan syukuri, alhamdulillah wa syukru lillah. TAPI tidak semua orang Muslim dan generasi mudanya mau atau bersedia MENGAKSES sarana-sarana kajian tersebut. Tidak semua mau, tidak semua mengerti, juga tidak semua sefrekuensi.

Jangankan ORANG UMUM, dari kalangan santri ASWAJA saja belum tentu mau masuk ke situ. Karena alasan beda paham dan manhaj, berapa banyak orang yang EMOH mengakses sarana sarana kajian tersebut.

Kalau orang tak mau mengaji, Anda bisa apa? Mau mengecam mereka, atau mem-finnaar-kan mereka? Kan tidak bisa begitu.

(I). Bicara film ya berarti kita bicara KONSUMEN UMUM, bukan ahli pengajian, ahli baca kitab, atau dunia para ustadz. Bukan ke situ marketnya. Beda market dan sangat jelas.

Ini adalah dunia orang umum, rata-rata latar belakang sekuler. Mereka belum istiqamah ke masjid, baca Al-Quran belum bagus, masih pacaran, masih suka pesta ulang tahun, kadang belum berhijab, masih suka musik, suka lihat konser, kadang masih merokok, masih memilih partai sekuler, dan lain-lain.

Mereka rata-rata belum ahli pengajian, tapi jumlahnya besar sehingga sangat potensial. Mereka tentu MUSLIM dan MUSLIMAH, dan gampang dipengaruhi lewat hiburan.

Mereka itu mungkin jumlahnya lebih banyak dari ahli pengajian. Kalau secara politik sering disebut "SWING VOTERS" atau Floating Mass (kaum mengambang). Mereka akan ikut saja siapa YANG PALING KUAT mempengaruhinya.

Jadi kepada KAUM INI lah langkah JIHAD MEDIA DAN BUDAYA diarahkan. Bukan ke ahli pengajian, ustadz-ustadz yang istiqamah, ahli masjid, ahli daras, ahli dakwah, para MUJAHIDIN di medan perang.

Tujuan mempengaruhi kelompok ini ada DUA:
Satu, mengajak mereka mendekat kepada Islam.
Dua, mencegah mereka dipengaruhi kafirin, munafikin, zhalimin, musyrikin, dan seterusnya.

(J). Bila ada ustadz tertentu yang mempromokan NONTON FILM edukatif Islami, bukan berarti dia maniak film atau tukang ziarah bioskop. Bukan sama sekali. Tapi dia meng-endorse TONTONAN POSITIF, sebagai penyeimbang ketika seorang "Ulil Amri" di negeri anu mengendorse film buruk semacam DILAN.

Jadi yang dia endorse itu PRODUK-nya, bukan tempatnya. Andai diadakan NOBAR di tempat aman, damai, bebas ikhtilat, mereka TETAP MENDUKUNG. Karena fokusnya di konten, bukan tempat.

Begitu juga saat muncul film seperti Omar, Al-Fatih, Sultan Abdul Hamid, dan semisalnya mereka tetap mendukung, sekalipun bukan ditonton lewat bioskop.

(K). Tapi kan bioskop itu penuh kemunkaran, ada ikhtilat, ada yang tidak menutup aurat, ada dua-duaan pacaran, ada pelukan ciuman, dan lainnya?

Jawaban atas pertanyaan ini ada beberapa:
a. Idealnya memang ada BIOSKOP Islami atau BIOSKOP Syariah, sebagaimana ada bank Syariah untuk mengimbangi bank konvensional, sehingga bisa mencegah aneka kemunkaran itu.
b. Meskipun dalam bioskop ada kemunkaran kemunkaran tersebut, nyatanya Ummat Islam masih banyak menonton di sana. Nah, para penonton ini harus dipengaruhi dan ditarik dari sana dengan nilai-nilai edukasi positif.
c. Ya namanya juga konsumen UMUM, mereka masih berbuat semacam itu. Mereka beda dengan ahli pengajian, aktivis, ustadz, dan sebagainya. Justru di situlah diperlukan dakwah mengajak mereka sadar dari kekeliruan sikapnya.
d. Bagi yang sudah ahli pengajian, ahli masjid, ahli baca kitab, ahli hadits, ahli tafsir, ahli dakwah; ya TIDAK PERLU ke bioskop. Cukup mereka stay dengan kajian, masjid, dunia kebaikan selama ini. Kecuali bagi mereka yang memang dakwahnya di sana. Itu perkecualian.
e. Fenomena munkar yang ditakutkan terjadi di bioskop, hal semacam itu banyak ditemukan di pasar pasar. Bahkan orang mabuk, main judi, main sihir, main dukun, kriminal, musik dangdut, sampai bunuh-bunuhan ada di pasar. Tapi kan bukan berarti pasar jadi HARAM dikunjungi.

Jadi intinya BIOSKOP KONVENSIONAL bukanlah tempat yang bagus bagi Muslimin. Jika pun ke sana, lebih karena ingin MENDIDIK KONSUMEN MUSLIM dengan nilai-nilai positif. Juga untuk MEMPENGARUHI mereka agar punya opini benar dan tidak sesat.

(L). Tapi bagaimana ketika orang orang pengajian, ahli masjid, aktivis dakwah yang diseru untuk meramaikan bioskop-bioskop, menonton film seperti HAYYA? Mereka kan bukan orang umum.

Begini, mereka dimobilisasi karena ADA KONDISI DARURAT. Darurat apa? Publik sedang diberondong dengan film liberal berlatar belakang santri, film LGBT, film pacaran semacam DILAN, film pocong dan hantu-hantuan, film seks bebas, dan lainnya. Ini satu sisi.

Di sisi lain, aturan regulasi di gedung cinema mempersulit eksistensi film edukatif Muslim. Kalau aturan ini tak bisa dipenuhi, nasib produksi film Muslim akan makin suram ke depan. Terlebih rata-rata biaya proses pembuatan film itu mahal.

Selama DAKWAH DI MATA UMUM (penikmat film) diperlukan, ya selama itu produksi sinema edukatif dijalankan. Tapi kalau dari segi penonton kecil, sulit ada peluang berkembang. Bisa saja dakwah itu akan "mati di tengah jalan".

Jadi hadirnya kaum pengajian di sana BUKAN UNTUK MEMAKMURKAN BIOSKOP, tapi untuk ikut menjaga eksistensi dakwah budaya lewat film. Dakwah itu segmennya orang umum, para penikmat film.

Produk film itu sendiri tidak melulu diputar di bioskop. Bisa saja nanti diputar dengan sistem NOBAR atau tayang di TV-TV.

Selama dakwah ke masyarakat penikmat film ini dibutuhkan, ya selama itu produk sinema Muslim harus dibela dan dibantu. Tapi bukan karena mau jadi "tukang ziarah bioskop", melainkan untuk MEMBANTU DAKWAH BUDAYA KE ORANG UMUM.

Bagi Anda yang TIDAK SETUJU dengan pemikiran ini, ya silakan Anda ajak para PENIKMAT FILM UMUM itu lewat cara-cara dakwah yang Anda yakini. Anda lakukan itu. Karena orang berani mengkritik, harus berani juga beri solusi yang lebih baik.

Kalau senyatanya Anda tak mampu MENARIK PARA KONSUMEN FILM UMUM itu, sehingga menjadi lebih baik dan Islami; ya jangan menyalahkan atau sentimen ke orang lain yang punya pemikiran berbeda.

Di sisi lain, seperti film HAYYA, ia juga terkait penggalangan dana kemanusiaan untuk Palestina, dan mendukung perjuangan mereka di sana.

Lagi lagi, kalau Anda tak mampu berkontribusi untuk Palestina dan lainnya, ya jangan mencela atau menyebar opini buruk. Tahan diri, tahan lisan, jangan suka "usil" ke orang lain.

(M). PENUTUP: Kita harus membiasakan diri memandang sesuatu secara luas, dengan tidak "asal comot". Tujuannya, agar bisa lebih mengerti daya upaya Ummat dalam membela agama dan kehidupannya. Tantangan hidup Ummat banyak, perlu "fastabiqul khoirot" (berlomba-lomba dalam kebaikan). Bukan saling mengganggu dan melemahkan.

Kalau kami sendiri, sehari hari bergaul dengan santri. Tidak bisa ikut-ikutan masuk cinema begitu. Bahkan andai ada NOBAR gratis pun, belum tentu bisa ikut. Tapi kami berusaha memahami maksud para sineas Muslim itu.

Kami sendiri suka melihat serial OMAR saat bulan Ramadhan lalu, juga pernah melihat serial ASHABUL KAHFI dari Mesir. Anak anak kami pun suka dengan film kartun KISAH PARA NABI. Secara khusus, saya pribadi sangat apresiatif dengan film film edukasi Harun Yahya kala itu; sayangnya kini si pemikir utamanya Adnan Oktar banyak berubah. Nas'alullah al 'afiyah.

Terimakasih atas semua perhatian, dan mohon maaf lahir batin. Alhamdulillahi Rabbil 'alamiin. Wallahu a'lam bis showaab.

Sumedang, 22 September 2019.
SamWas.

0 komentar:

Posting Komentar