WHAT'S NEW?
Loading...

TAFSIR SURAT AL FATIHAH ( BAGIAN 3)


Surat Al Fatihah ayat kedua

{الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ}

“ Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam”

Tinjauan Bahasa

Alhamdu  ( اَلْـحـَمْدُ ) merupakan mubtada’ marfu’  ( pembuka kalimat berharakat dhamah, vokal “u”).  Ia juga mashdar ( asal kata ) dari kata kerja  حَمِدَ ( ha-mi-da) yang memiliki tambahan alif dan lam ( ال  ) jika masuk pada kata sifat atau jenis menunjukkan makna al istighraq wa as syumul ( totalitas dan kesempurnaan).

Sehingga kata الحمد لله   memiliki makna:

كل الحمد بجميع صنوفه وأجناسه لله تعالى

Segala pujian dalam semua tingkatan dan jenisnya hanya milik Allah yang Maha Tinggi.
Yaitu sifat terpuji dan sempurna yang diungkapkan dengan rasa cinta dalam bingkai keagungan, karena jika pujian itu diungkapkan tanpa cinta dan keagungan, ia hanya riya, pujian kosong dan dusta menggelincirkan pihak yang memuji. ( Al Lubab fi tafsir  al Basmallah wal Istiadzah wa fatihatul kitab,1/213)

✔Perbedaan pendapat ulama antara Al Hamdu   ( الحمد ) dan As Syukru ( الشكر )

Sebagian ulama berpendapat bahwa alhamdu dan as syukru bermakna sama, diantara ulama yang berpendapat seperti ini adalah Al Mubarrad  dan At Thabari. Beliau berkata,” Orang Arab biasa berkata,” الحَمدُ لله شُكْراً ( Al Hamdulillah, terima kasih ). ( Al Jami’ li Ahkamil Qur’an,1/133,  Tafsir At Thabari, 1/ 135-138)

Pendapat lain mengatakan bahwa As Syukru ( bersyukur )  lawannya adalah al kufru ( kufur nikmat ) , sedangkan al hamdu  ( pujian ) adalah bagian dari as syukru ( bersyukur ). ( Zamakhsyari, Al Kasyaf, 1/7).

Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa,” al Hamdu ( pujian ) dilakukan dengan lisan dan hati, sedangkan syukur adalah bagian dari al Hamdu ( pujian ). (Majmu fatawa, 11/123)

Ar Raghib berkata:
فكل شكر حمد، وليس كل حمد شكرًا

“ Setiap Syukur adalah pujian dan tidak setiap pujian bermakna syukur. ( Al Lubab, 1/218)

Namun jika kita cermati perbedaan diatas hanya bersifat lafdzi ( bahasa ) bukan bersifat maknawi ( makna ).

✔Beragam penafsiran  "Alhamdulillah"  menurut para Ulama:

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

الحمد الإخبار بمحاسن المحمود مع المحبة لها. فلو أخبر مخبر بمحاسن غيره من غير محبة لها لم يكن حامدًا،
 ولو أحبها ولم يخبر بها لم يكن حامدً

Pujian adalah pemberitahuan tentang kebaikan yang dipuji disertai rasa cinta, jika tidak disertai dengan rasa cinta maka ia belumlah menjadi seorang pemuji, jika ia mencintai namun belum memberitahukan rasa cintanya itu, ia juga belumlah menjadi seorang pemuji”. ( Majmu’ Fatawa,8/378)

Berkata Ibnul Qayyim Al Jauziyah dalam kitab Madariju as Salikin:

 الحمد يتضمن مدح المحمود بصفات كماله، ونعوت جلاله، مع محبته والرضا عنه والخضوع له، فلا يكون حامدًا من جحد صفات المحمود، ولا من أعرض عن محبته والخضوع له. وكلما كانت صفات كمال المحمود أكثر كان حمده أكمل، وكلما نقص من صفات كماله نقص من حمده بحبسها. ولهذا كان الحمد لله، حمدًا لا يحصيه سواه

Alhamdu bermuatan pujian kepada yang dipuji karena memiliki sifat kesempurnaan dan keagungan, disertai mahabbah dan ridha serta tunduk. Tidaklah disebut memuji jika ia ingkar dengan sifat yang dipujinya, tidak pula bagi orang yang berpaling dari cinta dan tunduk kepadanya.  Semakin sempurna sifat yang dipuji maka pujian itu semakin sempurna, oleh karena itu Segala puji hanya milik Allah, pujian yang tak ada tandingan kepada selain-Nya .

( Madariju as Salikin, 1/48, Tafsir Al Qayyim, 25, Tafsir at Thabari, 1/137,  al Kasyaf, 1/7, An Nasafi,1/3)

Sayyid Quthb berkata dalam Az Zhilal:

وكانت عقائد الجاهليات السائدة في الأرض كلها يوم جاء الإسلام، تعج بالأرباب المختلفة، بوصفها أرباباً صغاراً تقوم إلى جانب كبير الآلهة كما يزعمون! فإطلاق الربوبية في هذه السورة، وشمول هذه الربوبية للعالمين جميعاً، هي مفرق الطريق بين النظام والفوضى في العقيدة. لتتجه العوالم كلها إلى رب واحد، ثم ليطمئن ضمير هذه العوالم إلى رعاية الله الدائمة وربوبيته القائمة. وإلى أن هذه الرعاية لا تنقطع أبداً ولا تفتر ولا تغيب

Keyakinan jahiliyah yang tersebar di jagat raya sebelum Islam datang, merupakan keyakinan yang melenceng dengan model sesembahan yang beraneka macam.  Mulai dari yang sesembahan yang kecil, hingga sesembahan besar seperti yang mereka sangkakan. Penyebutan rububiyah ( ketuhanan )  yang bersifat global  bagi seluruh alam pada surat ini merupakan titik persimpangan antara kerancuan akidah menuju kepada Rabb yang Maha Esa. Agar damai sanubari alam dibawah bimbingan Allah dan Ketuhanan yang lurus. Bimbingan yang takkan terputus selamanya, tidak jua lemah atau lenyap. (Sayyid Qutub, Fi Dzilalil Qur’an, 1/23)

Ibnu Katsir menyebutkan hadits:

وَفِي سُنَنِ ابْنِ مَاجَهْ عَنِ ابْنِ عُمَرَ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَهُمْ: "أَنَّ عَبْدًا مِنْ عِبَادِ اللَّهِ قَالَ: يَا رَبِّ، لَكَ الْحَمْدُ كما ينبغي لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيمِ سُلْطَانِكَ، فَعَضَلَتْ بِالْمَلَكَيْنِ فَلَمْ يَدْرِيَا كَيْفَ يَكْتُبَانِهَا، فَصَعَدَا إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَا يَا رَبِّ، إِنَّ عَبْدًا قَدْ قَالَ مَقَالَةً لَا نَدْرِي كَيْفَ نَكْتُبُهَا، قَالَ اللَّهُ -وَهُوَ أَعْلَمُ بِمَا قَالَ عَبْدُهُ-: مَاذَا قَالَ عَبْدِي؟ قَالَا يَا رَبِّ إِنَّهُ قَدْ قَالَ: يَا رَبِّ لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيمِ سُلْطَانِكَ. فَقَالَ اللَّهُ لَهُمَا: اكْتُبَاهَا كَمَا قَالَ عَبْدِي حَتَّى يَلْقَانِي فَأَجْزِيَهُ بِهَا"

Disebutkan dalam Sunan Ibnu Majah dari Ibnu Umar, bahwasanya Rasulullah Shalallahu Alaihi wa sallam bersabda kepada mereka,” Seorang hamba Allah berkata,” Ya Rabb, bagi Mu segala puji yang hanya layak untuk  Keagungan dan Kekuasaan- Mu. Kalimat itu begitu agung sehingga  dua malaikat kebingungan untuk menuliskan, lalu mereka naik kelangit dan berkata kepada Allah,” Ya Rabb sesungguhnya ada seorang hamba telah berkata  ucapan yang agung, kami tak sanggup menuliskannya. Kemudian Allah berfirman-Dia Maha Tahu ucapan hamba-Nya- apa yang dikatakan oleh mereka,” malaikat menjawab,” ia berkata,” Ya Rabbi lakal hamdu kama yanbaghi lijalali wajhika wa ‘Adzimi sulthanik. Allah berfirman,” Tuliskan seperti apa yang hamba-Ku ucapkan, hingga ia menemui Aku, Aku yang akan membalasnya,”. ( Tafsir Ibnu Katsir, 1/131)

▶Tafsir surat al Fatihah ayat ketiga

الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

“Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang”

Ar Rahman dan Ar Rahim merupakan dua sifat Allah  derifatif ( turunan )  dari kata Ar Rahmah    ( kasih sayang ). Ar Rahman,”  Rahmat yang Agung, merupakan ungkapan umum untuk segala jenis rahmat, sebagian ulama berpendapat bahwa Ar Rahman adalah nama yang khusus bagi Allah, dan tak boleh dinamakan untuk selain-Nya.
Ar Rahim bermakna,”  Rahmat yang berkesinambungan”. ( Wahbah Zuhaily,Tafsir Al Munir, 1/56)

Ar Rahman: Allah memiliki rahmat yang luas yang tersebar untuk seluruh makhluk-Nya tanpa pengecualian. Sedangkan Ar Rahim adalah kasih sayang Allah yang  khusus untuk kaum muslimin dengan cinta-Nya ( Tafsir Al Muyassar, 1/1)

(Bersambung ...)


✏ Ust Fauzan Sugiono, Lc

GRUP WA MANTAP-MAJELIS NGAJI TAPOS, DEPOK🌿

🔳 Sebarkan! Raih amal shalin

0 komentar:

Posting Komentar