إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِين
“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan” ( QS. Al Fatihah: 5)
📘 Tinjauan Bahasa
إِيَّاكَ : Kedudukan dalam kalimat adalah maf’ul muqaddam ( objek yang di dahulukan )
aslinya adalah نَعْبُدُ إِيَّاكَ
Fungsi dari didahulukannya objek dalam kalimat tersebut adalah sebagai kekhususan ( ikhtishash) dan sebagai perhatian utama ( ihtimam ). Seperti yang disebutkan oleh Imam As Syaukani. ( Fathul Qadir, 1/27, Ad Dur Al Mashun, 1/55)
Abu Zahrah dalam tafsirnya menyebutkan:
وتقديم (إِيَّاكَ) على (نَعْبُدُ) و (نَسْتَعِينُ) لتعظيم الله تعالى بذكره أولا، ولأن التقديم للاهتمام بالمعبود والمستعان؛ وللدلالة على أنه سبحانه وتعالى هو المختص بالعبادة وحده، وأنه لَا يستعان بغيره، وفي ذلك كمال التوحيد والخضوع له وحده سبحانه وتعالى، ولقد روي عن ابن عباس رضي الله عنهما أنه قال في قوله تعالى: (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ): معناه نعبدك ولا نعبد غيرك.
Hikmah dari didahulukannya kata (إِيَّاكَ)dari kata (نَعْبُدُ) dan (نَسْتَعِينُ) untuk mengagungkan Allah dengan menyebut-Nya lebih dahulu, agar menjadi perhatian utama hamba dan tempat meminta pertolongan. Juga sebagai petunjuk bahwa Allah, Dia lah yang khusus satu-satunya Dzat yang berhak untuk disembah, tidak berhak seorang hamba meminta tolong kepada selain Allah. Itulah kesempurnaan tauhid dan ketundukan hanya kepada-Nya. Ibnu Abbas radhiyallahuanhuma meriwayatkan bahwa makna:
(إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ)
Kami hanya menyembah-Mu, tidak menyembah yang lain, kami meminta tolong kepadamu, tidak kepada yang lain. (Abu Zahrah, Tafsir Az Zahrah, 1/65)
📙 Makna ibadah
Ibadah berarti merendahkan diri kepada Allah dan patuh atas perintah-perintah-Nya (Fath al-Majid Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 17, at-Tauhid al-Muyassar, hal. 53).
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Menurut pengertian syari’at ibadah itu adalah suatu ungkapan yang memadukan antara kesempurnaan rasa cinta, ketundukan, dan rasa takut.” (Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [1/34].
Syaikh Shalih al-Fauzan berkata, “Sebagian ulama mendefinisikan ibadah sebagai kesempurnaan rasa cinta yang disertai kesempurnaan sikap tunduk.” ( al-Irsyad ila Shahih al-I’tiqad, hal. 34)
Syaikh Shalih al-Fauzan menegaskan, “Ibadah yang diperintahkan itu harus mengandung unsur perendahan diri dan kecintaan. Ibadah ini mengandung tiga pilar; cinta, harap, dan takut. Ketiga unsur ini harus berpadu. Barangsiapa yang hanya bergantung kepada salah satu unsur saja maka dia belum dianggap beribadah kepada Allah dengan sebenarnya. Beribadah kepada Allah dengan modal cinta saja, maka ini adalah metode kaum Sufi. Beribadah kepada-Nya dengan modal rasa harap semata, maka ini adalah metode kaum Murji’ah. Adapun beribadah kepada-Nya dengan modal rasa takut belaka, maka ini adalah jalannya kaum Khawarij.” (al-Irsyad ila Shahih al-I’tiqad, hal. 35)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan
اسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضاه من الأقوال، والأعمال الظاهرة والباطنة كالخوف، والخشية، والتوكل، والصلاة، والزكاة، والصيام، وغير ذلك من شرائع الإسلام “
Ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah, berupa perkataan atau perbuatan, yang tampak maupun yang tersembunyi, seperti khauf ( takut ) Khasyah ( cemas ) tawakal, shalat, zakat puasa, dan syiar-syiar islam lain.
( Mawa’izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, karya Syaikh Shalih Ahmad asy-Syami, hal. 54)
📗 Syarat diterimanya ibadah
Ibadah akan menjadi benar dan diterima di sisi Allah jika memenuhi 2 syarat; ikhlas dan ittiba’ (Syaikh Shalih al-Fauzan, Mazhahiru Dha’fil ‘Aqidah fi Hadzal ‘Ashr wa Thuruqu ‘Ilajiha, hal 10).
(وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ)
Maknanya adalah:
وإياك رَبنا نستعين على عبادتنا إيّاك وطاعتنا لك وفي أمورنا كلها -لا أحدًا سواك، إذْ كان من يكفُر بك يَستعين في أمورِه معبودَه الذي يعبُدُه من الأوثان دونَك، ونحن بك نستعين في جميع أمورنا مخلصين لك العبادة.
“Kepada Engkau kami mohon pertolongan atas ibadah dan ketaatan kami kepada-Mu, dalam semua urusan kami - Tiada Tuhan selain Engkau - . Orang yang mengingkari-Mu mereka memohon pertolongan dalam urusan ibadah kepada sesembahan mereka, patung dan sejenisnya, namun kami memohon pertolongan hanya kepada-Mu, dalam semua urusan, dengan keihlasan ibadah”. ( Tafsir At Thabari, 1/161)
As Syahid Sayyid Qutub menyebutkan:
«إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ» .. وهذه هي الكلية الاعتقادية التي تنشأ عن الكليات السابقة في السورة. فلا عبادة إلا لله، ولا استعانة إلا بالله.وهنا كذلك مفرق طريق.. مفرق طريق بين التحرر المطلق من كل عبودية، وبين العبودية المطلقة للعبيد! وهذه الكلية تعلن ميلاد التحرر البشري الكامل الشامل. التحرر من عبودية الأوهام. والتحرر من عبودية النظم، والتحرر من عبودية الأوضاع. وإذا كان الله وحده هو الذي يُعبد، والله وحده هو الذي يُستعان…
“ Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan”
Inilah bagian akidah yang menyusun universalitas yg lalu dalam surat Al Fatihah, tiada ibadah kecuali kepada Allah, tidak meminta pertolongan kecuali kepada Allah. Ini pula persimpangan jalan, antara kemerdekaan mutlak dari segala macam penghambaan dan penghambaan mutlak kepada makhluk. Inilah wujud lahirnya kemerdekaan manusia yang sempurna dan komprehensif. Kemerdekaan dari penghambaan semu, kemerdekaan dari penghambaan dari kepada system, kemerdekaan dari penghambaan kepada konsep-konsep. Jika Allah adalah Dzat satu-satunya yang berhak disembah, maka Dial ah satu-satunya yang berhak di minta pertolongan… ( Fi Dzilalil Qur’an, 1/25)
(Bersambung ..)
🌿🍀🌿🍀🌿
✏ Ust Fauzan Sugiono, Lc
🌿 Dipersembahkan oleh GRUP WA MANTAP-MAJELIS NGAJI TAPOS, DEPOK🌿
💾 Sebarkan ! Raih pahala ..
0 komentar:
Posting Komentar