WHAT'S NEW?
Loading...

Mengulik Fakta Tentang Ramadhan Di Negara Sakura Yang Sangat Menantang


Bulan Ramadhan selalu membawa cerita tersendiri bagi umat muslim yang menjalankannya. Dengan banyaknya pantangan yang memang harus dijahui, setiap umat muslim harus kuat untuk mengekangnya, mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Ajaran semacam ini berlaku menyeluruh bagi semua umat muslim dunia termasuk umat muslim minoritas yang ada di berbagai negara termasuk Jepang. Ramadhan di negara Sakura bisa dibilang sangat menantang.

Menanggapi adanya tantangan yang sangat berat dirasakan oleh umat muslim yang tinggal di wilayah negara sakura tersebut, nampaknya tidak menyurutkan minat mereka dalam mendapatkan ridho sang Ilahi. Banyak sekali fakta menarik terkait dengan nuansa Ramadhan di negara Sakura yang perlu Anda ketahui secara menyeluruh. Melalui hal ini, sudah pasti Anda yang tinggal di negara dengan umat muslim sebagai mayoritas akan banyak-banyak bersyukur.

Fakta menarik terkait dengan Ramadhan di negara Sakura

Mengenai nuansa Ramadhan di negara Sakura tentu saja tidaklah jauh berbeda dengan beberapa negara muslim di dunia. Sekalipun muslim menjadi agama minoritas di kalangan masyarakat yang sebagian besar menganut ajaran agama lain, namun toleransi umat beragama dalam hal ini sangatlah kuat. Terkait akan hal ini, berikut beberapa fakta menarik yang perlu Anda ketahui terkait dengan nuansa Ramadhan di Jepang.


Tidak ada hal yang berbeda dari hari biasa

Sebagai dampak atas posisi muslim di negara Jepang yang dianggap sebagai minoritas, tidak mengherankan jika muslim harus menjalani aktivitas seperti biasanya. Dalam hal ini, Ramadhan di negara Sakura tetap menuntut semua orang memiliki disiplin yang sangat tinggi dalam bekerja. Namun, jika Anda menginginkan hal yang nuansa Islamnya masih terasa, Anda bisa mencoba untuk mengunjungi Islamic Centre yang mana Anda akan menemukan banyak saudara muslim.

Durasi berpuasa ditentukan oleh cuaca

Dikenal sebagai negara dengan empat musim, Ramadhan di negara Sakura ternyata harus ditentukan oleh adanya cuaca. Dalam hal ini, untuk negara tropis, puasa dilalui selama waktu 12jam, sedangkan di negara empat musim harus menahan berbagai hal yang membatalkan puasa selama 16 hingga 17 jam lamanya. Tidak mengherankan jika kemudian hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi umat muslim di Jepang.

Sekalipun dianggap minoritas toleransi umat beragama sangat kuat

Sama halnya dengan beberapa negara lain yang memposisikan Islam sebagai agama minoritas, kebanyakan dari penganut agama lain tetap berlaku saling menghormati antara satu dengan lainnya, sehingga tercipta kerukunan umat beragama. Nuansa Ramadhan di negara Sakura yang semacam inilah yang membuat dua lapisan masyarakat berbeda dari segi kepercayaan masih bisa hidup dengan harmonis.

Kurma menjadi takjil yang diincar umat muslim

Jika kolak, es buah ataupun asinan selalu disajikan sebagai menu utama di saat bebuka, di Jepang, pada umat muslim selalu mengkonsumsi kurma sebagai makanan pembuka di saat berbuka. Nuansa Ramadhan di negara Sakura yang semacam ini akan membuat Ramadhan semakin kental. Selain kurma, jenis makanan yang bisa disantap saat berbuka adalah makanan khas Turki yang dikenal dengan sebutan yakiniku ataupun sup misoa.

Itulah beberapa fakta menarik terkait dengan Ramadhan di negara Sakura yang memang tidak jauh berbeda dengan di negara Islam. Bahkan, Anda juga masih bisa merasakan kebersamaan dengan mencoba untuk bergabung dengan sesama muslim yang bisa Anda jumpai di Islamic Center. Melalui cara ini, Anda tidak akan merasa sendiri ketika berada di negara non muslim dan sedang menjalankan ibadah puasa.

0 komentar:

Posting Komentar