Selasa: Al Quran dan Tafsir
TAFSIR SURAT AL FATIHAH ( BAG. 4)
AYAT KEEMPAT
Firman Allah:
مَالِكِ يَوْمِ الدِّين
Yang menguasai Hari Pembalasan
Tinjauan Bahasa مَالِكٌ dan مَلِكٌ
Secara bahasa kata “al mâlik” adalah derivatif dari kata “al milki” artinya memiliki.
Kata “al mâlik” pun juga bisa berarti “al mulk”artinya kekuasaan.
Pembahasan ini mencakup sepuluh pendapat lebih dikalangan para ulama bahkan An Nuhasi mengatakan lebih dari dua puluh lima pendapat.
Kata مَالِك berdasarkan qiraat 'Ashim dan Ali bin Abi Thalib, sedangkan kata مَلِكِberdasarkan pendapat Al Hasan dan Abu Hanifah ( Tafsir An Nasafi, 1/30)
Al Qurthubi berkata:
مَلِكِ" أَعَمُّ وَأَبْلَغُ مِنْ" مالِكِ" إِذْ كُلُّ مَلِكٍ مَالِكٌ، وَلَيْسَ كُلُّ مَالِكٍ مَلِكًا، وَلِأَنَّ أمر الْمَلِكَ نَافِذٌ عَلَى الْمَالِكِ فِي مُلْكِهِ
Kata “malik” ( raja ) lebih umum dan jelas, dari kata “mâlik” ( yang memiliki ), setiap malik ( raja ) adalah mâlik ( yang memiliki ), dan tidak setiap mâlik ( yang memiliki ) adalah malik ( raja ), karena raja memiliki perintah yang melampaui pada kekuasaanya”. ( Tafsir Al Qurthubi, 1/140)
Imam Asy Syaukani berkata:
وَالْمَلِكُ يَقْدِرُ عَلَى مَا لَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ الْمَالِكُ مِنَ التَّصَرُّفَاتِ الْعَائِدَةِ إِلَى تَدْبِيرِ الْمَلِكِ وَحِيَاطَتِهِ وَرِعَايَةِ مَصَالِحِ الرَّعِيَّةِ فَالْمَالِكُ أَقْوَى مِنَ الْمَلِكِ فِي بَعْضِ الْأُمُورِ، وَالْمَلِكُ أَقْوَى مِنَ الْمَالِكِ فِي بَعْضِ الْأُمُورِ. وَالْفَرْقُ بَيْنَ الْوَصْفَيْنِ بِالنِّسْبَةِ إِلَى الرَّبِّ سُبْحَانَهُ أَنَّ الْمَلِكَ صِفَةٌ لَذَّاتِهِ، والمالك صفة لفعله
Dan kata “al malik” ( harakat mim pendek ) menunjukkan kemampuan yang tidak dimiliki oleh al mâlik ( harakat mim panjang) dari perbuatan mengatur kepemilikan, meliputi dan merawat kemaslahatan yg dirawat, “al mâlik” lebih kuat maknanya dari ” al malik” pada sebagian hal, dan “al malik” pun lebih kuat pada sebagian hal, yang membedakan keduanya adalah dalam hal sifat Allah, kata “al malik” مَلِك adalah sifat dzatiyah ( Dzat Allah ) dan kata “al mâlik” مَالِك sifat fi’liyah ( perbuatan Allah). ( Fathul Qadir, 1/26)
Meski perbedaan qira-at dikalangan ulama sebuah keniscayaan yang terjadi, namun bermuara pada makna yang satu, yaitu Allah Maha Menguasai segala sesuatu, semua makhluk akan kembali kepada-Nya, setiap jiwa akan menemui-Nya dan akan mempertanggung jawabkan segala perbuatannya, baik ataupun buruk, besar ataupun kecil, jauh ataupun dekat, semua nyata dihadapan Allah semua dalam kekuasaan Allah.
Imam At Thabari menyebutkan,” Allah-lah satu-satunya penguasa pada hari kiamat, tiada yang lain, padahal sebelumnya para raja dan penguasa di dunia mereka sombong dan merasa bisa menandingi Allah, namun pada saat hari kiamat mereka semua kecil dan dan lemah, hanya Allah yang Maha Kuasa dan Maha Besar.” ( Tafsir At Thabari, 1/149)
يَومُ الدِّين
“ Hari Pembalasan”
Secara bahasa kata Ad Din adalah balasan ( al mukafa’ah ) dan perhitungan ( al hisab) mengapa menggunakan kata Ad Din?
بِأَنَّ لِلدِّينِ يَوْمًا مُمْتَازًا عَنْ سَائِرِ الْأَيَّامِ، وَهُوَ الْيَوْمُ الَّذِي يَلْقَى فِيهِ كُلُّ عَامِلٍ عَمَلَهُ وَيُوَفَّى جَزَاءَهُ.
Karena kata ad din memiliki hari yang istimewa dari semua hari, yaitu saat orang yang beramal akan melihat amal, dan mendapat balasannya. ( Tafsir Al Manar, 1/46)
Keyakinan akan balasan kebaikan dari Allah menumbuhkan keyakinan dan ketenangan dalam hati, meski terkadang di dunia tidak didapat.
As Syahid Sayyid Qutub mendeskripsikan:
والاعتقاد بيوم الدين كلية من كليات العقيدة الإسلامية ذات قيمة في تعليق أنظار البشر وقلوبهم بعالم آخر بعد عالم الأرض فلا تستبد بهم ضرورات الأرض. وعندئذ يملكون الاستعلاء على هذه الضرورات. ولا يستبد بهم القلق على تحقيق جزاء سعيهم في عمرهم القصير المحدود، وفي مجال الأرض المحصور. وعندئذ يملكون العمل لوجه الله وانتظار الجزاء حيث يقدره الله، في الأرض أو في الدار الآخرة سواء، في طمأنينة لله، وفي ثقة بالخير، وفي إصرار على الحق.
Keyakinan tentang Hari Pembalasan merupakan bagian dari akidah islam, urgensinya adalah menghubungkan hati manusia dengan alam lain setelah alam dunia, dan hatinya tidak terpatri kepada dunia, pada saat itu ia memiliki harapan yang lebih dari sekedar dunia, tidak risau dalam menggapai balasan dunia dalam usia yang pendek, dalam dunia yang terbatas, pada saat yang sama ia memiliki amal hanya kepada Allah, menunggu balasan dengan takdir Allah, dalam urusan dunia atau akherat sama, ia selalu tenang, yakin kepada Allah , tsiqah dalam kebaikan dan kontinuitas dalam kebenaran. ( Fi Dzilalil Qur’an, 1/24)
(Bersambung ...)
✏ Ust Fauzan Sugiono, Lc
TAFSIR SURAT AL FATIHAH ( BAG. 4)
AYAT KEEMPAT
Firman Allah:
مَالِكِ يَوْمِ الدِّين
Yang menguasai Hari Pembalasan
Tinjauan Bahasa مَالِكٌ dan مَلِكٌ
Secara bahasa kata “al mâlik” adalah derivatif dari kata “al milki” artinya memiliki.
Kata “al mâlik” pun juga bisa berarti “al mulk”artinya kekuasaan.
Pembahasan ini mencakup sepuluh pendapat lebih dikalangan para ulama bahkan An Nuhasi mengatakan lebih dari dua puluh lima pendapat.
Kata مَالِك berdasarkan qiraat 'Ashim dan Ali bin Abi Thalib, sedangkan kata مَلِكِberdasarkan pendapat Al Hasan dan Abu Hanifah ( Tafsir An Nasafi, 1/30)
Al Qurthubi berkata:
مَلِكِ" أَعَمُّ وَأَبْلَغُ مِنْ" مالِكِ" إِذْ كُلُّ مَلِكٍ مَالِكٌ، وَلَيْسَ كُلُّ مَالِكٍ مَلِكًا، وَلِأَنَّ أمر الْمَلِكَ نَافِذٌ عَلَى الْمَالِكِ فِي مُلْكِهِ
Kata “malik” ( raja ) lebih umum dan jelas, dari kata “mâlik” ( yang memiliki ), setiap malik ( raja ) adalah mâlik ( yang memiliki ), dan tidak setiap mâlik ( yang memiliki ) adalah malik ( raja ), karena raja memiliki perintah yang melampaui pada kekuasaanya”. ( Tafsir Al Qurthubi, 1/140)
Imam Asy Syaukani berkata:
وَالْمَلِكُ يَقْدِرُ عَلَى مَا لَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ الْمَالِكُ مِنَ التَّصَرُّفَاتِ الْعَائِدَةِ إِلَى تَدْبِيرِ الْمَلِكِ وَحِيَاطَتِهِ وَرِعَايَةِ مَصَالِحِ الرَّعِيَّةِ فَالْمَالِكُ أَقْوَى مِنَ الْمَلِكِ فِي بَعْضِ الْأُمُورِ، وَالْمَلِكُ أَقْوَى مِنَ الْمَالِكِ فِي بَعْضِ الْأُمُورِ. وَالْفَرْقُ بَيْنَ الْوَصْفَيْنِ بِالنِّسْبَةِ إِلَى الرَّبِّ سُبْحَانَهُ أَنَّ الْمَلِكَ صِفَةٌ لَذَّاتِهِ، والمالك صفة لفعله
Dan kata “al malik” ( harakat mim pendek ) menunjukkan kemampuan yang tidak dimiliki oleh al mâlik ( harakat mim panjang) dari perbuatan mengatur kepemilikan, meliputi dan merawat kemaslahatan yg dirawat, “al mâlik” lebih kuat maknanya dari ” al malik” pada sebagian hal, dan “al malik” pun lebih kuat pada sebagian hal, yang membedakan keduanya adalah dalam hal sifat Allah, kata “al malik” مَلِك adalah sifat dzatiyah ( Dzat Allah ) dan kata “al mâlik” مَالِك sifat fi’liyah ( perbuatan Allah). ( Fathul Qadir, 1/26)
Meski perbedaan qira-at dikalangan ulama sebuah keniscayaan yang terjadi, namun bermuara pada makna yang satu, yaitu Allah Maha Menguasai segala sesuatu, semua makhluk akan kembali kepada-Nya, setiap jiwa akan menemui-Nya dan akan mempertanggung jawabkan segala perbuatannya, baik ataupun buruk, besar ataupun kecil, jauh ataupun dekat, semua nyata dihadapan Allah semua dalam kekuasaan Allah.
Imam At Thabari menyebutkan,” Allah-lah satu-satunya penguasa pada hari kiamat, tiada yang lain, padahal sebelumnya para raja dan penguasa di dunia mereka sombong dan merasa bisa menandingi Allah, namun pada saat hari kiamat mereka semua kecil dan dan lemah, hanya Allah yang Maha Kuasa dan Maha Besar.” ( Tafsir At Thabari, 1/149)
يَومُ الدِّين
“ Hari Pembalasan”
Secara bahasa kata Ad Din adalah balasan ( al mukafa’ah ) dan perhitungan ( al hisab) mengapa menggunakan kata Ad Din?
بِأَنَّ لِلدِّينِ يَوْمًا مُمْتَازًا عَنْ سَائِرِ الْأَيَّامِ، وَهُوَ الْيَوْمُ الَّذِي يَلْقَى فِيهِ كُلُّ عَامِلٍ عَمَلَهُ وَيُوَفَّى جَزَاءَهُ.
Karena kata ad din memiliki hari yang istimewa dari semua hari, yaitu saat orang yang beramal akan melihat amal, dan mendapat balasannya. ( Tafsir Al Manar, 1/46)
Keyakinan akan balasan kebaikan dari Allah menumbuhkan keyakinan dan ketenangan dalam hati, meski terkadang di dunia tidak didapat.
As Syahid Sayyid Qutub mendeskripsikan:
والاعتقاد بيوم الدين كلية من كليات العقيدة الإسلامية ذات قيمة في تعليق أنظار البشر وقلوبهم بعالم آخر بعد عالم الأرض فلا تستبد بهم ضرورات الأرض. وعندئذ يملكون الاستعلاء على هذه الضرورات. ولا يستبد بهم القلق على تحقيق جزاء سعيهم في عمرهم القصير المحدود، وفي مجال الأرض المحصور. وعندئذ يملكون العمل لوجه الله وانتظار الجزاء حيث يقدره الله، في الأرض أو في الدار الآخرة سواء، في طمأنينة لله، وفي ثقة بالخير، وفي إصرار على الحق.
Keyakinan tentang Hari Pembalasan merupakan bagian dari akidah islam, urgensinya adalah menghubungkan hati manusia dengan alam lain setelah alam dunia, dan hatinya tidak terpatri kepada dunia, pada saat itu ia memiliki harapan yang lebih dari sekedar dunia, tidak risau dalam menggapai balasan dunia dalam usia yang pendek, dalam dunia yang terbatas, pada saat yang sama ia memiliki amal hanya kepada Allah, menunggu balasan dengan takdir Allah, dalam urusan dunia atau akherat sama, ia selalu tenang, yakin kepada Allah , tsiqah dalam kebaikan dan kontinuitas dalam kebenaran. ( Fi Dzilalil Qur’an, 1/24)
(Bersambung ...)
✏ Ust Fauzan Sugiono, Lc
0 komentar:
Posting Komentar