TAFSIR SURAT AL
MULK ( Bag.12)
Perumpamaan Orang Yang Mendapat Petunjuk
Nash Ayat 22
أَفَمَنْ يَمْشِي مُكِبًّا عَلَى
وَجْهِهِ أَهْدَى أَمَّنْ يَمْشِي سَوِيًّا عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (22)
TERJEMAH
Apakah orang yang merangkak dengan wajah tertelungkup yang
lebih terpimpin (dalam kebenaran) ataukah orang yang berjalan tegap diatas
jalan yang lurus?
Katakanlah,”Dialah yang menciptakan kamu, dan menjadikan
pendengaran, penglihatan dan hati nurani bagi kamu, tetapi sedikit sekali kamu
bersyukur.”(QS. AL Mulk:22-23)
TINJAUAN BAHASA
Imam At Thabari menjelaskan dalam tafsirnya yang dimaksud
dengan kalimat “Mukibban ‘Ala Wajhihi” adalah:
لا يبصر ما بين يديه، وما
عن يمينه وشماله
Tidak dapat melihat apa yang ada
didepan, samping kiri dan kanannya
(أَهْدَى) : أشدّ استقامة على الطريق
Sedangkan kalimat “Ahdaa’ maksudnya: Sangat lurus diatas jalan (
Tafsir At Thabari,23/515)
Pada ayat ke duapuluh ada kalimat
pertanyaan (أَفَمَنْ يَمْشِي) dinamakan istifham
inkari( kata pengingkaran) yang
fungsinya untuk taubikh ( mencela) sifat sifat orang kafir yang menyimpang dari
petunjuk Allah subhanahu wataala.” ( Shafwatu Tafasir,3/397)
KANDUNGAN AYAT
Allah menggambarkan orang kafir seperti orang buta yang
berjalan, dan orang beriman seperti orang yang mendapat arah petunjuk jalan
dalam menempuh perjalalan.
Ad Dhahak berkata,” Allah memberikan permisalan bagi
orang-orang kafir yang berjalan diatas muka bumi ini apakah mereka lebih utama,
dibanding orang-orang mukmin yang mendapat petunjuk? ( Tafsir At Thabari,
23/516)
Qatadah berkata,”Orang-orang kafir kelak dikumpulkan pada
hari kiamat bersama pelaku maksiat didunia, kondisi mereka berjalan dengan muka
(wajah ) dibawah. Ada orang yang bertanya”
Wahai Nabi,” Mengapa mereka berjalan dengan muka mereka”? NabiShalallahu
Alaihi wa sallam menjawab,” Sungguh Dzat yang membuat mereka berjalan dengan
kaki, lebih berkuasa membuat mereka berjalan dengan wajah”. ( Tafsir At
Thabari,23/516)
Menurut Jalaludin As Suyuthi ayat ini merupakan permisalan,
siapakah diatara orang-orang kafir dan orang-orang mukmin yang berada diatas
petunjuk? ( Tafsir Jalalain,1/756)
Terkait dengan ayat ini, Syekh Nawawi Al Bantani menyebutkan
dalam tafsirnya,” Lebih baik mana orang yang berjalan melalui tempat berkelok,
tertatih setiap saat dan medan menyulitkan dari orang yang berjalan tegak
diatas jalan lurus, tidak berbelok, tiada hambatan?
Katakanlah Dialah Allah yang membuatmu ada dan menciptakanmu
dalam bentuk yang sebaik-baiknya,
menjadikan pendengaran untuk mendengarkan ayat ayat Al Qur’an, penglihatan
untuk melihat ayat-ayat ciptaan Allah, hati untuk berfikir tentang apa yang
didengar dari Al Qur’an, namun sedikit sekali diantara kalian yang mau
bersyukur.” (Tafsir Marah Labid, 2/548)
0 komentar:
Posting Komentar