WHAT'S NEW?
Loading...

Partai wong cilik yang sebenarnya


Seperti yang sudah pernah gue publish beberapa hari yang lalu, terjadi kebakaran di sebuah perkampungan padat penduduk di daerah Cawang, Jakarta Timur. Kejadiannya hari Rabu, 9 oktober 2019, sekitar jam 7 malam. Api dengan cepat membesar, membakar habis bangunan disekitarnya.


Kamis 10 oktober 2019, dalam perjalanan menuju airport Soekarno Hatta, gue posting kejadian itu di halaman akun Facebook. Sekedar mau mengabarkan kepada rekan di dunia maya sebuah kejadian yang sejatinya sudah biasa terjadi. Tapi baru kali inilah gue melihat kebakaran secara langsung dari jarak dekat.

Jiwa reportase amatiran seketika membuncah. Rasa panik hinggap namun pikiran waras gue saat itu mengatakan harus menelpon dinas kebakaran DKI Jakarta terlebih dahulu. Nomor telpon didapat dari hasil googling, alhamdulillah langsung diangkat. Setelah mendapat kepastian bahwa mobil pemadam kebakaran telah diberangkatkan, gue lalu merekam kejadian tersebut.

16 jam setelah kebakaran, baru gue posting ke facebook. Kenapa gak langsung saat itu juga? Lha akun gue malamnya masih disuspend, gak bisa posting, gak bisa komen, gak bisa ngapa-ngapain. Seperti biasa, untuk kesekian kalinya gue dianggap "melanggar standar komunitas". Entahlah untuk tulisan yang mana.

16 jam setelah kebakaran di sebuah perkampungan yang berada ditengah kota Jakarta, tak jauh dari tugu Pancoran, dekat menara Saidah yang kini sepi macam kuburan. Yang membuat gue heran adalah kemana empati partai politik? Kemana mereka yang selama ini mentasbihkan diri sebagai "partai wong cilik"? Kemana mereka yang saat Pileg kemarin getol membuat framing "dekat dengan rakyat"? Kemana kalian saat ada rakyat yang kesusahan?

16 jam setelah tragedi kebakaran yang gue saksikan dengan mata kepala sendiri, hanya ada satu tenda yang berdiri ditengah-tengah lokasi bekas kebakaran. Mereka adalah simpatisan dan anggota Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Terkonfirmasi berasal dari PKS Cawang dan Kramat Jati.

Cepat, tanggap, responsif saat rakyat membutuhkan uluran tangan. Bukan kuantitas bantuan yang menjadi ukuran, namun pihak mana yang tiba duluan kelokasi bencana. Lalu sebisa mungkin memberi pertolongan.

Dalam kasus ini, gue anggap PKS jauh lebih dewasa daripada partai politik lainnya. Saat kebanyakan parpol hanya menjual 'jargon', PKS tak perlu membangun pencitraan kesana kemari. Buka mata rakyat dengan aksi nyata, tunjukkan kalau ditengah hujatan banyak pihak, PKS mampu menunjukkan sikap solidaritas kepada sesama tanpa memandang apa agama, suku, ras dan pilihan politiknya. Lakukan dengan ikhlas, insya Allah akan dibalas dengan ganjaran luas.

Minggu, 13 oktober 2019, berselang 4 hari sejak tragedi kebakaran. Baru saja istri menanyakan kabar berita gue yang sedang berada di Samarinda. "Mas sehatkah? sedang apa? lagi apa? semalam berbuat apa?"

Setelah menjawab satu per satu pertanyaan beruntun itu, gue balik bertanya tentang kondisi terakhir di lokasi kebakaran. Segera ia mengirim foto dan video yang diambil dengan smartphone-nya sendiri.

Gue terperanjat, 4 hari pasca kebakaran, hanya posko PKS yang masih bertahan disana. Tendanya kecil, tak begitu besar. Bisa jadi bantuan yang diberikan kepada warga yang tertimpa musibah juga tak seberapa. Tapi inilah bentuk aksi spontan yang lahir karena ketulusan tanpa pencitraan.

Bagaimana dengan partai yang lain? Ah, pemilu 2024 kan masih jauh. Nanti saja kalau sudah dekat coblosan, baru kita turun ke kampung-kampung membawa orkes dangdut koplo. Tak lupa menyertakan biduan wanita berpakaian seksi, lalu berjoget ngebor, ngecor, itik, dumang, warga pun senang. Setelah aksi tontonan syahwat, rakyat lalu diberi sekilo beras, seliter minyak goreng, 5 bungkus mie instant. Tak lupa sang jurkam berpesan, "pilih partai kami ya pak! Ingat logonya, banteng kudisan!"

Begitulah cara berpolitik kaum jahiliyah. Menjual aurat wanita dan paket sembako murahan. PKS tak perlu ikut-ikutan, jadilah pioneer yang mendobrak kebodohan akhir jaman. (BZH)

Copas

0 komentar:

Posting Komentar