WHAT'S NEW?
Loading...

Ikut Imam Mazhab yang Empat = Jumud?


Fakhri Emil Habib


Pernyataan ini barangkali hanya akan keluar dari lisan yang kurang piknik. Seolah-olah ijtihad hanya dilakukan oleh imam yang empat saja, sedangkan para ulama setelahnya tinggal mengikuti secara saklek (jumud/beku).
.
Mereka mengklaim, di abad 19-20, barulah muncul mujaddid-mujaddid (para pembaru) yang menghancurkan tembok kejumudan dan membuat Islam kembali dinamis. Yang membuka kembali pintu ijtihad setelah sebelumnya terbelenggu oleh fanatisme mazhab.
.
Benarkah demikian? Tentu saja tidak. Berikut kami tuliskan alasannya.
.
Pertama, pernyataan seperti ini secara tidak langsung merupakan pengingkaran terhadap hadis Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang masyhur dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud yang artinya : "Sesungguhnya Allah menganugerahkan bagi umat ini dalam SETIAP SERATUS TAHUN : seseorang yang memperbarui untuk mereka agama mereka,"
.
Setiap seratus tahun, ada pembaru. Jika dikatakan bahwa ada kejumudan sejak abad ke-4 hingga ke-14 Hijriyah, berarti tidak ada pembaru dalam rentang 10 abad tersebut? Lalu bagaimana dengan manifestasi hadis tadi? Think about it!
.
Kedua, adalah bukti-bukti riil bahwa ulama-ulama yang hidup dalam kurun waktu antara abad ke-4 hingga ke-14 Hijriyah memahami dan memahamkan agama secara dinamis, dan tetap melakukan praktek ijtihad serta pembaruan.
.
Pembaruan yang dimaksud disini, sebagaimana juga dalam beberapa riwayat dari Imam Ahmad rahimahullah, adalah menyesuaikan pengajaran agama dengan zamannya, sebagai manifestasi Islam rahmat bagi alam semesta, tak peduli dimana, tak peduli kapan.
.
Contohnya adalah usaha yang dilakukan oleh Imam al-Ghazali  untuk memberikan ruh dalam praktik keberagamaan : agar tujuannya yaitu mengenal Allah (ihsan) dapat tercapai. Hal ini tampak pada metode ilmiah beliau di dalam kitab Ihya Ulumiddin.
.
Para ulama dalam rentang waktu ini juga tidak taklid buta. Yang taklid biasanya taklid ittiba' : mengetahui dasar ijtihad imamnya. Bahkan tak jarang melakukan ijtihad sendiri di luar kaidah-kaidah mazhab muktabar yang ada.
.
Makanya kita temukan istilah "Ikhtiyarat Imam Nawawi", yaitu pendapat pribadi Imam Nawawi rahimahullah yang berbeda dengan muktamad mazhab yang dianut beliau : Mazhab Syafi'i. Yang berarti beliau melakukan ijtihad, meskipun parsial.
.
Begitu pula Imam Suyuthiy, Imam ar-Razi, Imam ar-Rafi'i, Imam Ibnu Rif'ah, dan lainnya. Sangat sulit menyatakan bahwa para ulama mulia lagi cerdas luar biasa ini terjebak kejumudan, sedangkan produk ijtihad mereka banyak bertebaran!
.
Jadi, intinya, jangan merasa jadi pembaru, sebelum kita tahu apa itu pembaruan, dan bagaimana proses pembaruan di setiap abad.
.
Merasa kampung kita jumud karena mempraktekkan apa yang diajarkan oleh ulama nusantara dahulu, kemudian kita datang mengharamkan (membid'ahkan) praktek yang dilakukan masyarakat, seolah-olah kita adalah pembaru.
.
Merasa usaha ormas-ormas Islam di Indonesia kuno dan tidak sesuai dengan tuntutan zaman, kemudian kita katakan Islam tidak mengenal ormas, ormas adalah hizbiy, seolah-olah kita adalah pembaru.
.
Whoa, whoa, whoa, bravo! Kenapa kita bisa begitu yakin bahwa kita adalah pembaru? Jangan-jangan kita bukan pembaru, tapi malah penggrasa-grusu. Jangan-jangan kita tidak mengokohkan agama, namun malah mengeroposkan pondasi-pondasi ilmiahnya. Ukurlah ilmu terlebih dahulu, baru klaim apa yang memang hak kita!
.
Yang lebih penting adalah, pembaruan Islam dimulai dengan pembaruan diri sendiri. Mulailah melakukan perbaruan pribadi, dari yang sombong dan tidak mau mengakui kebodohan menjadi pribadi yang mau belajar dan insaf.
.
Bagaimana mungkin kita mampu melakukan pembaruan, jika ternyata kita tidak memahami esensi pembaruan itu sendiri?
.
Juga penting : Pembaruan dimulai dengan TAKLIM, bukan sekedar dengan tahfizh, taushiyah, tabligh, targhib, dll.
.
Semoga Allah selalu menuntun kita untuk jadi lebih baik.. (^_^)

0 komentar:

Posting Komentar